Muktamar ke-2 (1989): Hartono Mardjono Calon Kuat, Buya Ismail yang Terpilih

328

Tokoh PPP dari pusat dan daerah ini membangun sinergi untuk mengalahkan Naro di Muktamar ke-2. Penggalangan media massa juga rapi. Beberapa wartawan berkonstribusi membentuk opini.

Waktu itu, disamping sebagai Wakil Sekjend PP Generasi Muda Persatuan (GMP), saya juga wartawan Media Indonesia yang baru lahir Maret 1989 di bawah kepemimpinan Surya Paloh. Memanfaatkan posisi wartawan, saya bertugas sebagai “humas kelompok enam”.

Kelompok ini mendapat tempat yang luas di media mainstream, terutama koran saya Media Indonesia.

Angin dukungan juga mengalir dari tokoh tokoh NU bagi tim ini. “NU-PPP” sangat gerah selama kepemimpinan Naro. Terutama tokoh PPP Jawa Tengah Imam Sofwan dkk.

Baca juga: PPP Tidak Akan Berubah Kalau Tidak Dimulai dari Pimpinan Daerahnya 

Tinggal menghitung hari Naro bakal terjungkal. Adapun Wakil Ketua DPA Hartono Mardjono “disepakati” sebagai Calon Ketua Umum. Desain format formatur sudah rapi. Mas Ton bakal dapat suara terbanyak.

Mendekati masa muktamar, sempat ada isu Istana menilai Hartono terlalu “keras” untuk PPP. Maka berembus nama lain yang dapat restu: Mahdi Tjokroaminoto

Tokoh Syarikat Islam putra pendiri PPP Anwar Tjokroaminoto. Tapi tim enam bergeming, skanario sudah jalan.

Baca juga: Nasihat Mbah Maimoen Zubair: Unsur Fusi PPP Harus Kembali Bersatu

Muktamar ke-2 di Horizon Ancol, menjadi titik balik bagi Naro dan pengikutnya. Keamanan Muktamar ke-1 (1984) oleh GPK/TNI yang ketat, saat Muktamar ke-2 (1989) terasa longgar. Malah, Tim Naro justeru yang dipersulit masuk ke arena muktamar.

Pimpinan persidangan didominasi “kelompok enam”. Desain pemilihan tim formatur terancang dengan rapi. Secara teoritis Hartono akan terpilih sebagai ketua formatur, memperoleh suara terbanyak. Skanario formasi formatur 7 orang (MI-NU), baik pusat maupun daerah menjanjikan kebersamaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here