Muhammadiyah–NU Dua Sayap Islam yang Saling Melengkapi

28
NU dan Muhammadiyah
Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah diusulkan UGM menerima Nobel Perdamaian.

Muslim Obsession — Menerima kunjungan balasan dari Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Qolil Staquf apresiasi hubungan harmonis yang dijalin kedua belah pihak.

Oleh karena itu, hubungan harmonis antar keduanya menurut Gus Yahya harus melahirkan gerakan konkret sebagai kerja bersama antara Muhammadiyah dengan NU. Keberadaan dua organisasi ini saling mengisi satu sama lain.

“Secara terus terang kami menyampaikan ke Pak Haedar kami butuh, banyak belajar dari Muhammadiyah tentang kebutuhan-kebutuhan real dari organisasi,” ungkap Gus Yahya di hadapan awak media di sela perjamuan kepada PP Muhammadiyah di Kantor PBNU di Jakarta, Kamis (25/5).

Lebih detail Gus Yahya menyebut bahwa NU belajar dari Muhammadiyah tentang pengelolaan lembaga pelayanan, penataan organisasi dan lain sebagainya. Dia menambahkan, akan melakukan tindak lanjut dari pertemuan ini.

“Karena kalau soal komunikasi langsung sudah biasa sejak dahulu, bagaimana kita bersama-sama mencari dan membangun strategi menciptakan momentum-momentum sedemikian rupa,” Imbuhnya.

Kebersamaan tersebut diharapkan memperbaiki semangat masyarakat dalam menyambut berbagai isu keumatan, kebangsaan dan universal. Lebih-lebih masalah kepemimpinan nasional menjelang Pemilu 2024.

“Tadi misalnya diangkat soal kebutuhan akan kepemimpinan moral di dalam politik, karena di dalam politik ini perlu kepemimpinan moral,” tuturnya.

Pembicaraan dalam kunjungan yang dilakukan Muhammadiyah tersebut selain tentang kepemimpinan moral, juga dibahas mengenai perekonomian yang berkeadilan, serta perhelatan politik yang demokratis.

Dia berharap kerja bersama yang dijalin antara Muhammadiyah dengan NU menjadi ladang kebaikan dan manfaat bagi semua pihak.

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here