Merinding Bacanya! Kisah Dahsyatnya Sedekah Ramadhan

84
Ilustrasi: Buka puasa bersama di masjid.

Muslim Obsession – Alkisah, ada seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) bernama Zie yang tidak pernah diajak proyek. Karena dia tidak mau cincai soal mark-up anggaran. Dia santai saja asal tidak makan uang haram.

Tapi, suatu ketika dia berada dalam kesulitan ekonomi, sehingga dia berniat menjual 80 bungkus makanan untuk ta’jil buatan istrinya di kantor.

Sampai kantor dengan membawa makanan untuk ta’jil tersebut, dia semangat mempromosikan ke ruangan-ruangan.

Sayangnya, tidak ada seorang pun yang menanggapi. Sampai waktu pulang tidak ada seorang pun yang membeli.

Perlahan Zie menghela nafas dan menitikkan air mata. Merahlah matanya.

Beberapa menit emudian dia menghapus air matanya, lalu melangkah keluar.

Di luar dia meliat ada 5 satpam. Maka diberikan lah 5 makanan ta’jil tersebut. Gratis. Bahkan ketika satpam tahu jualannya tidak laku dan mau membayar, Zie menolak.

Kemudian Zie mampir di masjid untuk shalat Ashar. Selesai shalat, dia serahkan seluruh makanan untuk ta’jil itu ke pengurus masjid untuk berbuka puasa gratis.

Tindakan itu membuat pengurus masjid mencatat nama, nomor telepon, dan alamat. Zie memberikannya, hanya satu pesannya bahwa dia tidak mau diumumkan namanya.

Sesampai di rumah. Dia disambut istri yang girang melihat Zie tidak membawa pulang makanan dagangannya. Tapi istrinya heran melihat Zie datang dengan lesu.

“Kenapa, Bang? Kan dagangannya habis,” tanya istrinya.

“Iya habis. Tapi ndak ada duitnya,” jawab Zie.

“Lho kok bisa? Pada ngutang?” sergah istrinya. Istri Zie mulai lesu juga.

“Bukan. Tidak ada yang beli di kantor. Jadi 5 ku kasih satpam, 75 ku kasih masjid,” jawab Zie.

“Oh..” kata istrinya, singkat.

Muka kecewa istri membuat Zie makin teriris. Tapi tak lama kemudian istrinya berwajah cerah kembali.

“Tidak apa-apalah, Bang. Belum rezeki. Kita diminta menjamu tamu Allah. Yuk, siap-siap. Sebentar lagi adzan Maghrib,” kata istri Zie, ringan.

Takjub Zie melihat keikhlasan istrinya.

Singkat kisah, setelah selesai Tarawih, tiba-tiba ada telepon masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Zie pun mengangkatnya. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..”

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi Wabarokatuh. Apa benar ini bapak yang tadi ngasih makanan ta’jil ke masjid?” tanya seseorang di seberang telepon.

“Benar, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Zie.

“Tadi kebetulan kami mampir masjid. Tidak kekejar buka di rumah saya. Saya makan bubur sumsumnya. Istri makan bubur ketan hitamnya. Enaaaak banget.”

“Alhamdulillah, Pak. Terima kasih,” kata Zie dengan wajah sumringah.

“Nah, mulai besok sampai tamat Ramadhan saya pesen 1.000 makanan untuk ta’jil setiap hari. Bisa, Pak?” kata orang tersebut.

Zie terkejut. Dan berteriak Allahu Akbar dalam hati. Gemetar dirinya. Makanan ta’jil yang dianggap tidak laku malah mendatang customer yang dasyat.

“Bi..bisa, Pak. Tapi maaf, keuangan saya lagi terpuruk. Modal untuk 1.000 hari saja tidak ada,” kata Zie.

“Tenang. Kalkulasi semua. Minta nomor rekening. Saya bayar cash untuk 28 hari,” jawab orang tersebut.

“Ya Allah, ini saya tidak mimpi kan, Pak?” kata Zie tak percaya.

Orang di seberang telepon itu tertawa.

“Oya, makanan untuk ta’jil akan dijemput supir dan pegawai saya. Bapak cukup membuat saja,” kata orang tersebut.

“Terima kasih yang tak terhingga, Pak. Semoga Jannah untuk Bapak,” kata Zie.

Telepon ditutup. Zie pun segera menghitung semua kebutuhan. Hasil hitungan itu kemudian di foto dan dikirim ke nomor seorang dermawan tadi, berikut nomor rekeningnya.

Sepuluh menit kemudian muncul notifikasi dari e-banking milik Zie. Masya Allah sudah masuk uang puluhan juta yang tadi dia tulis.

Saudaraku, matematika Allah memang tidak pernah kita ketahui. Itulah dahsyatnya sedekah.

 


Sumber: Udin Fatkhurrahman, Komunitas Bisa Menulis (dengan sedikit penyesuaian).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here