Mentadaburi Al-Quranul Karim

121

Oleh: Hj. Indra Gempita (Ketua Bidang Pengkaderan dan Keanggotaan PP DAIYAH PARMUSI)

Al-Quranul Karim adalah sumber pertama syariat Islam. Al-Quranul Karim adalah kitab kehidupan dan hikmah, kitab yang membentuk manusia dan peradaban. Al-Quranul Karim adalah taman hati, dan sekaligus sebagai obat penawar baginya.

Mentadaburkan isinya, disertai dengan mengamalkannya, dapat membukakan hati dan mencairkan berbagai macam kotoran dan tipu daya diri yang menguasainya, dan kemudian meletakkan manusia di dalam pusaran hikmah.

Hendaknya kita jadikan membaca Al-Quran sebagai salah satu program keseharian kita. Tadaburkanlah kumpulan ayat-ayatnya supaya kita dapat mengamalkannya. Jika kita belum bisa mentadaburkannya maka cukuplah kita membacanya, walaupun hanya satu halaman dalam sehari.

Perhatikan dan pelajari dengan sungguh-sungguh satu ayat Al-Quran, dan kemudian berpeganglah dengan teguh terhadap perintah-perintah yang terkandung di dalamnya. Allah Swt telah berfirman, “Maka tidakkah mereka menghayati Al-Quran, ataukah hati mereka telah terkunci,” (QS. Muhammad, 47: 24).

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah, dengan kitab ini (Al-Quran) meninggikan derajat kaum-kaum dan menjatuhkan derajat kaum yang lain,” (HR. Muslim).

Hadits ini maksudnya, adalah barangsiapa yang berpedoman dan mengamalkan isi Al-Quran maka Allah akan meninggikan derajatnya, tapi barangsiapa yang tidak beriman kepada Al-Quran maka Allah akan menghinakannya dan merendahkan derajatnya.

Wajib juga bagi kita untuk mengimani bahwa Al-Quran yang agung ini adalah merupakan kitab terakhir yang diturunkan Allah Swt, dan Allah telah menempatkannya pada kedudukan teristimewa di antara kitab-kitab sebelumnya.

Maka wujud dari mengimani Al-Quran adalah dengan mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. Selain itu, diwujudkan pula dengan menghormati orang yang ahli dan orang yang hafal Al-Quran. Juga harus melaksanakan hukum-hukum yang ada di dalamnya. Bahkan harus meresapi kandungan Al-Quran, sehingga bila mendengar ayat-ayat mengenai ancaman Allah, bisa mencucurkan air mata.

Orang yang membaca Al-Quran harus mengenal hak Al-Quran yang harus dipenuhi yakni, wajib penghormatan dan kemuliaan, diperhatikan dan diamalkan apa yang ditunjukkannya dari sifat-sifat yang baik, akhlak yang mulia dan amalan yang saleh.

Semua hal ini dituntut dari kita sebagai seorang muslim pada umumnya, dan terlebih lagi kepada para pembaca Al-Quran. Karena mereka memang lebih layak, disebabkan kedudukan dan kelebihan yang ada padanya dari Kitab Allah, keterangan-keterangan dan hujjah-hujjahnya.

Perlu diketahui bahwa orang yang membaca Al-Quran dan orang yang menghafalkannya, mempunyai kedudukan di sisi Allah.

Dalam hal ini Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang membaca Al-Quran, sedang ia mahir dan lancar bacaannya, bersama para Malaikat yang mulia lagi baik. Dan orang yang membacanya dan merasa nikmat ketika membacanya, padahal lidahnya berat menyebut huruf-hurufnya, maka ia mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadits yang lain disebutkan, “Apabila seorang hamba mengkhatamkan Al-Quran, maka di kala ia menamatkan itu enam puluh ribu malaikat mendoakannya.” (HR. ad-Dailamai melalui Amr Ibnu Syu’aib).

Al-Quran adalah Kalamullah atau firman Allah yang dianggap sebagai ibadah dalam membacanya, sekalipun orang yang membacanya tidak mengerti maknanya.

Dalam hadits ini disebutkan bahwa barangsiapa mengkhatamkan Al-Quran, maka ia didoakan oleh enam puluh ribu malaikat sewaktu ia mengkhatamkannya. Hadits ini menerangkan tentang keutamaan membaca Al-Quran.

Perlu kita ketahui, –semoga Allah Swt. memasukan kita ke dalam golongan orang-orang yang gemar membaca Al-Quran, yang memelihara Al-Quran dan terpelihara pula oleh Al-Quran, yang mendirikan hukum-hukumnya, –bahwa membaca Al-Quran merupakan ibadah yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah dan merupakan ketaatan yang amat mulia di sisi-Nya.

Rasulullah ﷺtelah bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah, dicatatkan baginya satu kebajikan, dan setiap kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh yang semisalnya. Aku tidak mengatakan Alif lammim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi).

Dalam hadits yang lain Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnah Rasulullah ﷺ” (HR. Muslim).

Dalam hadits yang lainnya lagi disebutkan, “Barangsiapa mengikuti Kitabullah (Al-Quran), niscaya Allah akan memberinya petunjuk dari kesesatan, dan Dia akan memeliharanya dari hisab yang buruk kelak di hari kiamat.” (HR. Thabrani melalui Ibnu Abbas r.a.).

Orang yang berpegang kepada Kitabullah akan selamat dari kesesatan, dan Allah Swt akan memeliharanya dari perhitungan yang buruk di hari kiamat kelak.

Makna yang dimaksud dengan Kitabullah dalam hadits ini ialah Al-Quran dan petunjuk Nabi ﷺ melalui sunnah dan haditsnya karena sesungguhnya semua yang disabdakan oleh Nabi ﷺ hanyalah berdasarkan wahyu belaka, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya, “Tiada lain (Al-Quran itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS. An-Najm, 53: 4).

Di antara amalan utama untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt yang mengandung pahala besar ialah belajar Al-Quranul Karim dan mengajarkannya. Perkara ini adalah fardhu kifayah yang sangat dituntut dari kaum muslimin, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa mendengarkan ayat Al-Quran (yang dibaca orang lain), Allah mencatat untuknya kebaikan yang berlipat ganda. Dan barang siapa membaca ayat Al-Quran kelak ayat yang dibacanya itu merupakan nur (cahaya) baginya dihari kiamat.” (HR. Ahmad melalui Abu Hurairah ra.).

Dalam hadits lainya disebutkan, “Sebaik-baiknya kamu ialah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.

Bukan hanya yang membaca Al-Quran saja yang mendapat pahala, tetapi orang yang mendengarkannya pun akan memperoleh pahala pula, sekalipun pahala orang yang membacanya jauh lebih besar daripada yang mendengarkannya.

Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa mengkhatamkan Al-Quran di awal siang (pagi hari) niscaya malaikat mendoakannya hingga sore hari, dan barang siapa mengkhatamkannya di akhir siang (sore hari) niscaya malaikat mendoakannya hingga pagi hari.” (HR. Abu Na’im melalui Sa’d).

Shallat ‘alaihil malaaikah, maka para malaikat membaca salawat atau berdoa untuknya. Salawat dari para malaikat artinya permohonan ampunan dari mereka untuk orang yang meng-khatamkan Al-Quran, dan doa para malaikat itu dikabulkan.

Hendaknya kita sebagai seorang muslim untuk memperbanyak membaca Al-Quran setiap siang dan malam dengan memperhatikan makna-maknanya dan memperindah suaranya dengan penuh adab hormat. Jangan sekali-kali kita meninggalkan membacanya, atau tidak memperhatikannya. Sebab, hal ini akan membuat kita segera melupakannya, dan yang demikian itu berdosa besar.

Perhatikan hadits di bawah ini, “Dibentangkan kepadaku semua dosa umatku, maka tidak kudapati dosa yang lebih besar dari sebuah surah Al-Quran, atau suatu ayat Al-Quran yang diberikan kepada seseorang (menghapalnya) lalu dilupakannya”. Hadits yang lain menyebutkan, “Sesungguhnya, orang yang melupakan Al-Quran sesudah menghapalnya, ia akan menemui Allah di hari kiamat, sedang anggota badannya terpotong.”

Rasulullah ﷺ telah berpesan kepada pembaca Al-Quran agar senantiasa memeliharanya. Beliau mengingatkan pula, bahwa Al-Quran lebih mudah terlepas dari dada seseorang ketimbang lepasnya seekor unta dari ikatannya.

Rasulullah ﷺ telah bersabda, “Al-Quran adalah pemberi syafaat yang dikabulkan syafaatnya dan petunjuk jalan yang bisa dipercaya. Siapa yang menjadikannya sebagai imamnya, maka Al-Quran akan menuntunnya ke surga.” (HR. Ibnu Hibban, Baihaqi).

Dalam hadits yang lain dsiebutkan, “Al-Quran didatangkan pada hari kiamat dan ia berkata, “Wahai Tuhan, hiasilah dia (orang yang membaca Al-Quran).’ Lalu dipakaikan padanya mahkota kemuliaan. Lalu Al-Quran berkata, ‘Wahai Tuhan tambahi dia.’ Lalu dipakaikan padanya hiasan kemuliaan. Lalu Al-Quran berkata, ‘Wahai Tuhan, ridhailah dia.’ Lalu dia diridhai. Lantas dikatakan padanya, “Bacalah dan naiklah, dan setiap satu ayat ia tambah satu kebaikan.” (HR. Imam Tirmidzi melalui Abu Hurairah ra.).

Wallahu a’lam bish-shawwab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here