Mengenal Habib Umar bin Hafidz, Ulama Paling Berpengaruh di Dunia

164
Habib Umar bin Hafidz.

Jakarta, Muslim Obsession — Habib Umar bin Hafidz sosoknya menjadi idaman dan panutan umat Islam dari berbagai negara. Di Indonesia, namanya pun namanya sudah tak asing lagi di masyarakat. Ia kerap bolak balik ke Indonesia untuk berdakwah dan bertemu dengan ulama-ulama Nusantara.

Berkat kealimannya, Ia masuk menjadi salah satu tokoh dari 500 Muslim yang paling berpengaruh di dunia pada 2022. Habib Umar lahir pada 27 Mei 1963 dan kini berumur 59 tahun. Ia mengajarkan nilai Sunni tradisional Syafi’i, Asy’ari, dan tarekat Sufi Ba’alawi.

Habib Umar menempuh seluruh pendidikan awalnya di Kota Tarim, Hadhramaut, Yaman, tempat kelahirannya. Ayah Habib Umar adalah seorang Mufti di Tarim.

Habib Umar, salah satu yang diyakini keturunan Nabi Muhammad, mulai berdakwah dan mengajar di usia 15 tahun. Ia telah menghafal Al-Qur’an dan mempelajari Islam sejak dini. Ia berguru pada sang ayah dan banyak ulama besar Tarim saat itu.

Mengutip situs resmi Muwasala, pada 1967, pemerintah Yaman Selatan sosialis saat itu berupaya menghapuskan ajaran Islam dari masyarakat. Cendekiawan dianiaya dan institut keagamaan ditutup secara paksa.

Meski demikian, ayah Habib Umar, Habib Muhammad, terus mengajarkan agama Islam. Ayah Habib Umar pun dipantau ketat oleh pasukan keamanan agar dapat diketahui keberadaannya setiap saat.

Suatu hari, ayah Habib Umar berangkat ke masjid untuk melakukan salat Jumat, tetapi ia menghilang dan tak pernah terlihat lagi.

Kejadian ini membuat Habib Umar tumbuh bersama ibunya, Hababah Zahra bint Hafiz al-Haddar, dan kakak laki-lakinya, Habib Ali al-Mashhur.

Pada 1981, kemunculan rezim komunis di Yaman Selatan membuat Habib Umar tak lagi bisa tinggal di negara itu. Ia kemudian pergi ke Kota Al-Bayda di Yaman Utara dan melanjutkan pendidikannya.

Membangun Pesantren dan Jejak Berdakwah

Pada 1991, Habib Umar pergi ke Kota Al-Shihr, Hadhramaut, untuk mengajar. Setelah beberapa tahun mengajar, ia akhirnya bisa kembali kota Tarim pada 1994.

Di tahun yang sama, Habib Umar membentuk dan menjalankan Darul Mustafa, pondok pesantren Islam tradisional yang berada di Tarim, Yaman. Sekolah ini juga menarik murid internasional, dan banyak lulusannya yang menjadi tokoh pemimpin dunia.

Selain itu, Habib Umar tergabung dalam penandatanganan dokumen ‘A Common Word Between Us and You’, yang membangun jembatan antara umat Islam dan Kristen. Ia juga sempat menjadi narasumber di Universitas Cambridge berkaitan dengan topik tersebut.

Habib Umar juga telah menulis sejumlah buku, seperti Al-Dhakirah Al-Musharrafah, yang adalah rangkuman pengetahuan yang wajib dimiliki umat Muslim. Ia juga pernah menulis tiga kompilasi hadis pendek dan rangkuman triwulan Ihya `Ulum Al-Din karya Imam Al-Ghazali.

Tak hanya itu, Habib Umar dikenal kerap melakukan dakwah ke penjuru dunia, seperti Amerika Serikat dan Eropa. Ia juga bekerja sama dengan Bantuan Muslim Australia untuk membantu masalah kemiskinan, kelaparan, dan kekurangan fasilitas kesehatan di area Tarim.

Dikutip The Muslim 500, Habib Umar sendiri merupakan penemu organisasi Masyarakat Amal Al Rafah yang berbasis di Yaman. Pada 2008, organisasi itu pernah turut membantu orang-orang yang kehilangan rumah dan properti mereka kala banjir melanda Hadhramaut.

Organisasi Al Rafah juga terus membantu masyarakat yang terdampak konflik di Yaman.

Selain itu, murid-murid Habib Umar membentuk organisasi Muwasala, yang bertujuan untuk “mempromosikan ajaran ilmiah dari tradisi Hadramaut.

Tokoh Toleransi

Mengutip situs resmi Nahdlatul Ulama, Habib Umar dikenal sebagai tokoh yang menjunjung tinggi toleransi. Ia mampu melihat kesamaan pandangan dari berbagai agama, salah satunya mengenai penghormatan terhadap kemanusiaan.
Habib Umar turut mengomentari tindakan anarkis oknum yang mengatasnamakan Islam.

“Kami meminta maaf apabila sampai ada orang non-muslim yang pernah mendapatkan gangguan dari oknum beragama Islam. Seandainya ada umat agama lain yang terganggu oleh oknum agama Islam, saya katakan bahwa mereka adalah orang yang tidak paham ajaran Islam, atau mereka tak menjalankan ajaran agama Islam dengan baik,” ujarnya.

Habib Umar sendiri juga kerap melakukan dakwah rutin ke Indonesia sejak 1994. Ia juga menginisiasi Majelis Al-Muwasholah Bayna Ulama Al Muslimin atau Forum Silaturrahmi Antar Ulama. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here