Memahami Perbedaan Waktu Arafah di Arab Saudi dan Indonesia

119

Oleh: Drs. H. Tb. Syamsuri Halim, M. Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Perlu diketahui bahwa Hari Arafah yang jatuh pada hari/tanggal 9 Dzulhijjah, tidak mutlak sama dengan hari pelaksanaan wukuf di Arafah, kecuali kalau umat Islam sendiri tengah berada di Arab Saudi.

Di sinilah perlunya pemahaman yang lurus agar kita tidak terombang-ambing dengan adanya beda penetapan Idul Adha antara Indonesia dan Arab.

Bahwa Hari Arafah adalah sekadar penamaan hari untuk tanggal 9 Dzulhijjah yang disunnahkan puasa menurut penanggalan masing-masing negara. Tidak mutlak bersamaan dengan pelaksanaan wukuf di Padang Arafah.

Dalam sejarah, umat Islam tetap melaksanakan puasa Arafah meskipun di Saudi tidak menyelenggarakan ibadah haji tidak ada peristiwa wukuf, karena situasi perang atau Covid seperti kemarin.

Jarak antara kedua negara cukup jauh, secara geo politik juga berbeda karena tidak dalam satu kawasan. Ini meniscayakan adanya perbedaan dalam memulai hari-harinya.

Ketampakan posisi bulan/hilal yang menandai masuknya awal bulan pun bisa berbeda. Untuk kasus awal Dzulhijjah tahun ini, di Arab Saudi posisi hilal baik tinggi maupun elongasinya sudah memungkinkan untuk dapat dirukyat. Meskipun kriteria yang digunakan bisa beda dengan Indonesia.

Perlu diketahui juga bahwa letak geografi Indonesia dengan Saudi cukup jauh, letak ketinggian dataran Saudi dengan Indonesia, secara vertikal, maka Indonesia lebih rendah di bandingkan dengan Saudi Arabiyah yang berada di dataran tinggi.

Sebagai ilustrustrasi, jika kita mau melihat suatu ngarai yang dalam maka akan mudah jika kita naik di atas tebing yang tinggi, atau ketika ada sesuatu yang keluar dari ngarai tersebut maka yang berada di tebing lebih mengetahui dibandingkan yang berada di bawah tebing, di atas tebing itu Saudi, di bawah tebing itu Indonesia.

Tapi meski demikian agar bulan yang belum terlihat di Indonesia, tapi sudah terlihat di Saudi arabiyah, maka Indonesia menurunkan tingkatan derajatnya, tadinya 4-5 derajat area untuk melihat, sekarang cuma 3 derajat saja.

Penerapan kriteria baru atau dikenal sebagai Neo MABIMS dengan tinggi hilal minimal 3 derajat, elongasi minimal 6,4 derajat tapi saat ini berdasarkan pemantauan di seluruh Indonesia belum mencapai kriteria. Hal itu diperkuat laporan hasil rukyat yang nihil.

Jadi dengan penjelasan ini, antara kedua negara suatu saat bisa jadi bersamaan dalam mengawali bulan, bisa jadi beda seperti sekarang ini karena geografi dan Alam yang sering berubah2

Hasil perhitungan dengan metode ilmu falak ala Nahdlatul Ulama, ketinggian hilal awal Dzulhijjah 1443 H mencapai + 2 derajat 11 menit 00 detik dan lama hilal 11 menit 38 detik untuk markaz Gedung PBNU Jakarta koordinat 6º 11’ 25” LS 106º 50’ 50” BT. Sementara konjungsi atau ijtimak bulan terjadi pada Rabu Legi 29 Juni 2021, pukul 09:52:15 WIB.

Sementara itu, letak matahari terbenam berada pada posisi 23 derajat 16 menit 57 detik utara titik barat, sedangkan letak hilal pada posisi 27 derajat 22 menit 41 detik utara titik barat.

Adapun kedudukan hilal berada pada 4 derajat 05 menit 16 detik utara matahari dalam keadaan miring ke utara dengan elongasi 5 derajat 04 menit 35 detik.

Demikian, wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here