Masjid Insight, “New Insight” dalam Memakmurkan Masjid

550

Peresensi: Taufiq MR

100 orang, 23 divisi, dan 300 program. Pasti data perusahaan. Ternyata bukan. Itu adalah data dari sebuah masjid di salah satu wilayah di tanah air. 100 orang itu seluruhnya digaji, terdiri dari karyawan tetap dan honorer.

Uniknya juga ada ratusan orang yang tidak bergaji untuk memenej dan mengontrol 100 orang bergaji tersebut. Anda mungkin masih penasaran. Kok bisa sebanyak itu dan untuk apa?

Mereka tidak hanya memakmurkan masjid, tapi juga memakmurkan umat. Itulah yang dilakukan oleh Masjid Darussalam, Kota Wisata, Cibubur, Jawa Barat.

Sepertinya tidak berlaku rumus “setengah hati” dalam mengelola masjid di benak para pengurus Masjid Darussalam.

Kesan itu dapat kita temukan di halaman pertama dari buku Masjid Insight, Menjadi Sahabat Masjid dalam Memberdayakan Umat ini, “Masjid itu tergantung pengurusnya. Kalau pengurusnya mampu memfungsikannya dengan baik, maka masjid bisa jadi tempat yang maslahat untuk umat.”

*****

Jika indikator memakmurkan masjid adalah banyaknya jumlah jamaah yang shalat dan ragam kegiatan pengajian, mungkin Masjid Darussalam telah memenuhi hal itu.

Masjid ini dipadati sekitar 700-800 jamaah yang melaksanakan shalat fardhu setiap waktunya. Saat shalat Shubuh akhir pekan, jumlah jamaah bahkan bisa membeludak hingga ke pelataran masjid.

Itu artinya, jumlah jamaah bisa mencapai 1.000 orang. Begitupun dengan kegiatan pengajian, sangat beragam. Dilakukan hampir setiap hari pada waktu tertentu, dengan beragam tema baik offline maupun online, dan diisi oleh para penceramah yang kompeten.

Kemudian, jika indikator memakmurkan umat adalah amal sosial dan menyantuni dhuafa, kiranya Darussalam juga telah memenuhi indikator tersebut.

Sejumlah bantuan dan santunan dilakukan setiap tahun, baik untuk masyarakat sekitar masjid maupun daerah-daerah lain, termasuk yang terdampak bencana alam seperti Aceh, Palu, Sigi, dan Donggala. Darussalam pun berkontribusi dalam membantu Palestina, Suriah, dan Rohingya.

BACA JUGA: Berbagi Pengalaman, Adang Wijaya Terbitkan Buku Masjid Insight

Untuk menopang 300 program setahun, Darussalam membuat lembaga manajemen masjid mandiri, lembaga dakwah & ibadah, lembaga sosial kemanusiaan, lembaga pendidikan, lembaga pemberdayaan, dan lembaga kewirausahaan sosial yang menghimpun dana ZIS, wakaf, serta dana sosial lain yang dikelola secara amanah dan profesional untuk meningkatkan kesejahteraan umat.

Unit-unit kegiatan yang inovatif juga dibentuk, misalnya, Darussalam Social Business Center, yang berorientasi terhadap model bisnis nonprofit. Meski “judulnya” nonprofit, program itu tetap harus memiliki profit. Artinya memiliki manfaat sosial atau kemaslahatan umat.

Pada masa pandemik ini, Darussalam tak mau mati akal. Selain turut serta membantu pemerintah dalam pemulihan pandemik dengan melaksanakan program tes covid-19 dan vaksinasi, Darussalam masih mampu mengelola dana sekitar Rp10 miliar per tahun.

*****

Meskipun penulis buku ini, Adang Wijaya, adalah “pegiat” Masjid Darussalam, tetapi buku ini tidak melulu tentang pengalaman dirinya dan Darussalam.

Dengan jiwa terbuka dan rendah hati, penulis mempelajari kesuksesan dan keberkahan dari para tokoh masjid.

Anda mungkin baru dengar ada marbot menjadi profesor, ada menteri yang dulu hidup dari masjid ke masjid, sampai-sampai dipanggil “James” (Penjaga Mesjid). Pun masih ada tokoh masjid lain yang dikisahkan secara menarik dalam buku ini.

Buku ini juga menyajikan success story dari masjid-masjid “berkelas” seperti Masjid Raya Pondok Indah, Masjid Andalusia, Masjid Az-Zikra, dan Masjid Jogokaryan.

Bukan karena masjid-masjid itu besar dari segi bangunan, tapi karena inovasi programnya yang bagus dalam memakmurkan masjid dan umat.

Selain itu, penulis memotret fenomena “hijrah” anak muda yang menjadikan masjid sebagai tempat berkhidmat. Tentang anak muda dan masjid ini, kita diajak belajar banyak dari para pegiat di tiga masjid.

Yakni Masjid Kapal Munzalan, Masjid Kurir Langit, dan Masjid Berkah Box. Para pegiat di tiga masjid ini merupakan para anak muda cerdas yang tak pernah kehabisan ide dalam memakmurkan masjid dan umat.

Tak ayal berbagai program kreatif khas anak muda dilakukan untuk memenuhi dahaga “hijrah” mereka. Mereka melakukan pelbagai amal shalih dengan berbagai bentuk kegiatan. Mereka berhijrah tetapi tidak kehilangan sisi kemudaannya.

Boleh dibilang ketiga masjid itu dibangun tidak lain untuk mempertautkan hati anak muda dengan masjid.

Masjid Insight adalah buku yang menghadirkan perspektif dan insight baru dalam memakmurkan masjid. Menyajikan sejumlah masjid yang bisa menjadi role model dengan berbagai program kreatif dan inovatif, termasuk aspek manajemennya.

Tujuannya tak lain untuk memakmurkan masjid sekaligus memakmurkan umat. Hal itulah yang dipotret oleh Imam Shamsi Ali dalam testimoninya atas buku ini, “Masjid secara literal adalah ‘tempat sujud’, tetapi bukan sekadar pusat kegiatan ritual.

Lebih dari itu, masjid adalah jantung kehidupan umat. Masjid Insight membawa kita memaknai masjid ke arah pemahaman tersebut.”

Tema-tema pokok dalam buku ini disajikan dengan bahasa yang ringan, popular, dan sangat menarik. Dilengkapi contoh-contoh praktis dalam memakmurkan masjid dan umat.

Mungkin karena penulisnya sejak belia telah mencintai masjid (muhibbin) dan seorang praktisi masjid. Adang Wijaya di samping sebagai Ketua Yayasan Masjid Darussalam, juga merupakan pengurus Majelis Ekonomi Syariah Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Bogor.

Melalui buku ini, dia ingin berbagi wawasan mengenai optimalisasi peran masjid agar lebih dirasakan kehadirannya oleh umat. Optimalisasi peran masjid dapat meningkatkan kualitas peradaban.

Selain itu, buku ini diharapkan bisa menjadi inspirasi untuk pengelola masjid dalam upaya menyejahterakan para pegiat dan pemakmur masjid. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here