Masa Depan Rohingya

1911

 

Akar sejarah Rohingya sudah sedemikian kompleksnya. Mereka cucu dan cicit dari komunitas yang acapkali kalah dalam pertarungan politik leluhur dan nenek moyang mereka di masa silam. Mereka yang hidup di masa kini tentu saja tak bisa disalahkan atas pilihan politik leluhur mereka, yang acap kali kalah.

Mereka tak lagi mampu mencari solusi bagi masa depan. Tak akan mampu pula negara Myanmar atau Banglades atau Indonesia, Malaysia, dan sebagainya. Kompleksnya masalah Rohingya memerlukan representasi internasional untuk hadir mencari solusi. Itu haruslah PBB.

Saya membayangkan PBB membentuk agen khusus, melibatkan pemerintahan Myanmar, Banglades, perwakilan Rohingya, dan negara lain, termasuk misalnya Indonesia dan Malaysia. Agen ini diberikan waktu untuk merumuskan apa solusi permanen bagi warga Rohingya.

Tak kita tahu apa jawabnya. Namun data sejarah menunjukkan kecenderungan di bawah ini.

Satu: Myanmar menolak Rohingya menjadi bagian dan warga negaranya.

Alasan ini yang akan diajukan. Konflik berdarah antara rohingya dan penduduk Myanmar lainnya sudah terlalu sering. Mereka bukan saja berbeda etnis, berbeda agama, tapi sudah terlalu sering berseberangan saling melukai di masa silam.

Luka konflik itu diceritakan dan diwarisi turun temurun. Menyatukan dua komunitas itu seperti menyatukan bensin dan korek. Hasilnya hanya api yang membakar.

Mayoritas penduduk Rohingya beragama Muslim, sementara 90 persen penduduk Myanmar bergama Hindu. Mayoritas etnis Rohingya adalah Bengali, sementara etnis terbesar Myanmar adalah Bamar. Namun bukan perbedaan itu benar yang menyulut api, tapi riwayat permusuhan keduanya selama ratusan tahun.

Dipaparkanlah riwayat konflik. Inggris mencaplok Myanmar, waktu itu Burma, selama hampir 120 tahun (1824-1942). Inggris menjadikan Myanmar sebuah propinsi bagi British India. Tapi bagaimana Inggris harus mengelola Burma secara murah, dan efektif?

Didatangkanlah etnis Bengali dari Banglades (waktu itu masih bagian India), yang mayoritas beragama islam, untuk ikut mengelola Burma, di wilayah Rakhine State, yang dulu masih disebut Arakan. Oleh penduduk Burma, penduduk India dari Bengali ini dipandang sebagai orang asing, yang menjadi bagian kaki tangan penjajah.

Dengan mayoritas penduduk yang ikut dikelola penduduk lain dari suku dan agama yang berbeda, ditambah kultur memecah belah khas kolonial, walaupun hanya sedikit penduduk Inggris di sana, penduduk yang dijajah susah bersatu. Penduduk Burma dan Bengali tak mungkin bersatu melawan Inggris karena permusuhan antar mereka sudah disulut untuk terus menyala.

1
2
3
4
5
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here