Malaikat Perempuan

2139

Aku masih sembunyi dibalik cungkup topi, tak mau dilihat orang-orang yang tengah bahagia. Tak mau mengganggu mereka yang tengah khusyu menyakiskan proses pernikahanmu.

Awalnya aku yakin tidak bakal kuat menyaksikan kebahagianmu sampai selesai, tapi akhirnya aku bisa—meski hanya dengan menjadi patung paling sunyi, dengan menguatkan hati ini—biarlah bagimu bahagia, meski bagiku amat menyesakan dada. Mungkin juga ini adalah alasanku yang besar, yaitu ingin melihatmu untuk yang pertama sekaligus yang terakhir kalinya dengan busana pengantin putih itu.

Tapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini dengan segala luka dan duka yang berkecamuk (andai aku bisa). Aku ingin menjemputmu terlebih dulu, membawamu pulang ke rumah yang telah aku siapkan, lalu menuju taman yang pernah kau ceritakan ingin memilikinya. Di sana sudah ada ayunan untuk dua orang. Aku ingin menarikmu dari kerumunan ini—seperti janji yang dulu pernah kau utarakan; Tini hanya ingin bermian di ayunan sampai malam. Sampai kita berdua bosan. Waktu itu aku setuju, kita setuju. Sekarang giliranku menagih janji itu.

Rasanya dengan segera aku ingin menarik tanganmu yang sedang bersalaman dengan lelaki berpeci dan berbaju putih itu. Ingin segera kutarik kamu, membawamu pergi, dan menerobos barisan keluarga yang seperti blokade polisi. Melewati Ibumu, keluarga besarmu dan juga keluarga pasanganmu yang lain.

Dalam otakku yang masih kacau, aku ingin membunuh lelaki itu. Lelaki yang telah merusak janji kita. Aku ingin. Badanku memang terasa lemas dan gemetar. Tapi aku yakin mampu membopongmu sampai ke halaman depan, di parkiran motor, nanti akan kubawa kau menuju rumah kita, setelah aku berhasil menghujamkan pisau tepat di dada lelakimu.

Namun itu semua belum juga aku lakukan, hingga semua orang bersorak, “Sah… sah!” aku membuang nafas. Bukan lega, malah makin sesak. Aku tahu aku belum juga bergerak, belum juga beranjak dari bangku sial ini. Aku mengutuki semuanya, mengutuki keberanianku yang tak juga muncul sebagai lelaki. Seharusnya aku menyangkal atau unjuk vokal mengatakan “Pernikahan edan! Tidak sah!”. Atau sebagainya. Namun lagi-lagi mulutku hanya bungkam. Hanya bisa menyakiskan prosesi selanjutnya. Aku seperti terbenam dalam kubangan lumpur hidup di rawa-rawa yang dalam. Ada hal yang tidak bisa aku terima atas semua takdir ini. Kau dikawin Sukatib. Lelaki itu.

Dibelakang, banyak aku mendengar bisikan orang-orang yang mengatakan kau telah terkena guna-guna oleh Sukatib. Jelas Sukatib tak pantas memiliki gadis sepertimu, gadis yang memilki senyum paling indah itu.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here