Kopi Sehat UBM: Kemerdekaan yang Hakiki

135

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Da’i Nasional PARMUSI, Direktur An-Nahl Institute Jakarta)

KEMERDEKAAN sebagaimana dalam pembukaan UUD 1945 disebut adalah hak segala bangsa, bahkan hakikinya adalah hak semua orang. Kemerdekaan tentunya bukanlah hadiah, tetapi merupakan buah dari perjuangan dan pengorbanan yang sungguh tak dapat dibayar oleh siapapun dan dengan apa pun demi mandirinya bumi Nusantara tercinta.

Tentu saja, kemerdekaan yang saat ini telah kita raih selama 77 tahun, hendaknya dimaknai oleh segenap lapisan masyarakat Indonesia, khususnya para pelayan Negeri (istilah sesungguhnya buat yang mengaku sebagai penguasa) dengan benar dan hakiki agar tahu apa yang dikerjakan dan dilakukan untuk kebaikan dan perbaikan bersama.

Tujuh puluh tujuh tahun sudah negeri ini bebas dari hegemoni penjajah. Tidak boleh lagi ada penjajahan apalagi oleh orang yang telah mengemis dan diberi kekuasaan oleh rakyat pemilik sah sebuah Negeri merdeka.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: PTQ. Pondok Bambu, Pesantren Modern Berbasis Tauhid

Kemerdekaan yang kemudian melahirkan kebebasan yang terukur dan terstruktur sepatutnya dimaknai dengan benar dari berbagai segi karena pembebasan itu memerlukan waktu yang teramat panjang, tenaga yang tak sedikit bahkan banyak nyawa hilang, juga keberanian yang terpancar seolah tiada batas.

Negeri tercinta ini telah dibela serta diperjuangkan mati-matian oleh para pahlawan yang berani mengobarkan semangat juang, berperang mengusir penjajah demi mempertahankan ‘nyawa dan sukma’ Indonesia.

Alangkah indahnya, jika kita bersyukur dan memaknai firman Alláh عزوجل dalam ayat berikut sebagai spirit untuk menata dan mengisi kemerdekaan dengan benar:

اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗ ۗوَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ (سورة آل عمران: ١٤٠)

“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allàh membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allàh tidak menyukai orang-orang zhalim,” (QS. Ali Imron: 140).

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Arafah Momentum Vital untuk Muhasabah Total

Mengisi dan memaknai kemerdekaan tidak hanya disambut dengan sejumlah perlombaan dan acara, apalagi yang sifatnya hura-hura tak bermakna. Karena perayaan seperti ini akan absen diadakan ketika hari kemerdekaan jatuh disaat seperti dua tahun kemarin ini.

Jika demikian, maka makna kemerdekaan akan menghadirkan persepsi yang sempit melalui adanya mata lomba oleh para anak-anak penerus bangsa ke depan.

Generasi penerus bangsa adalah permata dan berlian bagi bangsa ini untuk masa yang akan datang. Setidaknya lewat pembinaan tauhid sebagai dasar kita bernegara, kemudian dikuatkan dengan ilmu dan pembentukan akhlak akan menjadi ruh dan jiwa menuju harapan terbentuknya negeri yang lebih baik dalam kehidupan.

Kita juga tentu saja pasti mengakui bahwa kita belum benar-benar merdeka, karena masih terjajah oleh hutang yang semakin menjadi dengan bunga yang gila-gilaan, belum lagi soal penegakkan hukum yang berkeadilan, kesenjangan sosial dan ekonomi yang masih belum stabil, dan masih banyak lainnya.

Sejatinya kemerdekaan yang hakiki dan sesungguhnya adalah ketika kita mampu berdiri kokoh dalam landasan tauhïd untuk menegakkan keadilan dan melawan kezhaliman.

والله اعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here