Kopi Sehat UBM: Islam Harga Mati

59

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Da’i Nasional PARMUSI, Muballigh Bakomubin, Ketua DPP Partai Ummat & Advokat Muslim)

ALLÂH ﷻ telah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰا تِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allâh dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslimun,” (QS. Ali Imrân: 102)

Dari ayat ini sangat jelas dipahami bahwa standar minimal dalam memaknai, melandasi, memperjuangkan dan mempertahankan sesuatu secara mati-matian dan sampai mati bahkan menjadi harga mati adalah hanya Islam. Tidak yang lain.

Sering penulis sampaikan dalam tulisan dan pengajian di mana-mana bahwa, kita ini adalah orang Islam lahir di Indonesia, bukan sekadar orang Indonesia yang beragama Islam.

Kenapa demikian? Karena lahir dalam anugerah Islam adalah karunia Allâh ﷻ yang luar biasa harus kita pertahankan dan perjuangkan mati-matian bahkan menjadi harga mati untuk kita bawa mati.

Sementara Indonesia kita, adalah karunia yang kita syukuri, jaga, bela, isi pembangunan di dalamnya dan lain sebagainya akan menjadi bermakna jika kita landasi dengan landasan minimal adalah Islam, kemudian selanjutnya Iman dan penuh keikhlasan.

Tidak akan beriman kita, jika tak menjadi Muslim sebelumnya dan tak mungkin ikhlas kita jika tak ada iman yang tumbuh dari anugerah Islam.

Besok ketika wafat, kita tak akan pernah ditanya apa ormasmu, apa partaimu, bahkan apa bangsa dan negaramu. Yang ditanya adalah ‘mâ dînuk’ apa agamamu.

Ya! Dengan Islam-lah kemudian pengabdian dalam ormas, perjuangan dalam partai serta penjagaan dan pembelaan kita selama hidup terhadap bangsa dan negara menjadi amal shâlih yang diperhitungkan, insyaAllâh!

والله اعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here