Kopi Sehat UBM: Arafah Momentum Vital untuk Muhasabah Total

81

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Dai Nasional Parmusi, Politisi Partai Ummat, Aktivis Islam & Advokat Muslim)

IMAM Muslim meriwayatkan mengenai puasa sunnah yang dapat menghapuskan dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang, itulah puasa Arafah. Puasa hari ini tanggal 9 Dzulhijjah, bagi yang berkeyakinan yang sama dengan momentum istimewa saudara kita yang berhajji dalam wuqûf di Padang ‘Arafah tahun ini.

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa ‘Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”

Puasa 9 Dzulhijjah atau disebut juga dengan puasa sunnah ‘Arafah adalah puasa sunnah muakkadah atau yang sangat dianjurkan. Puasa ‘Arafah merupakan puasa sunnah yang pelaksanaannya bertepatan pada waktu jamaah haji beribadah wuqûf di padang ‘Arafah.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Masjid untuk Umat

Waktu ini sangatlah istimewa karena merupakan puncak tertinggi ibadah bagi mereka yang menunaikan ibadah hajji, tetapi bagi kita yang tidak melaksanakannya dapat tetap merasakan esensi yang sama dengan menunaikan puasa ‘Arafah.

Waktu yang sangat mahal ini, apalagi bertepatan dengan hari Jum’at yang biasa diistilahkan Hajji Akbar, ayo kita habiskan dalam meneguhkan hal yang paling vital dan mahal, yakni “Tauhîd”, bukan malah sibuk mencari-cari pembenaran sendiri dengan menyalahkan yang lainnya. Lihatlah bagaimana Rasûlullâh ﷺ telah nyatakan dengan gamblang:

 خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari ‘Arafah dan sebaik-baik apa yang Aku dan para Nabi sebelumku katakan adalah:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Lâ ilâha illallâh, waḥdahu lâ syarîka lahu, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa ‘alâ kulli shai’in qadîr .

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Energi Hidup

“Tiada Tuhan melainkan Allâh semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya lah segala kerajaan dan pujian dan Dialah Maha menguasai atas segala sesuatu,” (HR Tirmidzi no. 3585).

Rasûlullâh ﷺ menyebut kalimat di atas adalah doa, tapi di mana ungkapan yang meminta dari doa di atas tersebut? Apa yang sesungguhnya diminta oleh seseorang yang mengucapkan doa tersebut?

Sungguh jika kita perhatikan dan fahami dengan seksama akan makna serta menyadari implikasi dari lafazh dzikir atau doa tersebut, maka sungguh seluruh permintaan dan permohonan telah terkandung dalam doa tersebut.

Jika kita mengucapkan lafazh-lafazh dzikir tersebut dengan khusyu’, maka Allâh عزوجل memperhatikan kita dengan penuh perhatian, dan dengan demikian maka seluruh permohonan dan harapan kita para hambaNya, baik di masa lalu dan masa yang akan datang tidak akan pernah sebanding dengan perhatian yang Allâh عزوجل berikan kepada kita semuanya.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Dosa dan Suasana Hati DOSA DAN SUASANA HATI

Oleh karenanya, semua orang beriman harus mengucapkan dzikir tersebut pada hari ‘Arafah, baik yang sedang melaksanakan puasa ‘Arafah apalagi yang sedang wuqûf di ‘Arafah.

Munajat atas dzikir di atas adalah muhâsabah sekaligus harapan tertinggi. Karena dengan dzikir tersebut dapat menghapuskan dosa-dosa dan membuat kita akan merasakan kembali menjadi suci, seperti bayi yang baru dilahirkan.

Selain daripada itu, membaca dzikir utama ini dapat menghilangkan sekat dan menjernihkan hati untuk menyaksikan dan merasakan semua ciptaan dan keagunagan-Nya, dengan menegaskan bahwa Allâh-lah yang Maha Berkuasa di alam jagat raya ini untuk menghidupkan dan mematikan.

Di sini pulalah, tentu tidak ada harapan dan dambaan apalagi ketakutan selain daripada Allâh, dan tidak ada yang bisa diandalkan selain daripada Allâh عزوجل.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Indonesia Bertauhid

‘Arafah secara akar bahasa, seakar dengan kata dengan kata ‘ârif yang bermakna orang yang mengenal, ia juga seakar kata dengan ma’ruf yang bermakna sesuatu yang terkenal atau perbuatan yang baik dan pantas.

‘Arafah juga masih seakar kata dengan i’tirâf yakni pengakuan dosa begitu juga dengan ta’âruf yang bermakna saling mengenal atau mengetahui serta juga seakar kata dengan kata ta’rîf yang bermakna definisi atau pengertian.

Karenanya, momentum Arafah ini menjadi wasilah untuk kita mengetahui, mengenal, bijak bahkan pengertian yang kemudian dengannya memahami definisi diri kita sendiri sebelum kita memahami atau mendefinisikan orang lain.

BACA JUGA: Kopi Sehat UBM: Indonesia Bertauhid

Kenalilah diri kita dengan sesungguhnya. Siapa kita sendiri sebenarnya? Darimana kita diciptkan, seperti apa kita berasal ? Bagaimana kita diciptakan? Apa yg harus kita lakukan? Ke mana kita akan menuju? Terus lakukan ‘Arafah’ hingga kita benar-benar mengenali diri sendiri.

Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbah, siapa yang mengenal dirinya, maka ia pasti akan mengenal Tuhannya.

Selamat mengarungi samudera ‘Arfah dengan total agar mampu menggapai spirit secara maksimal. Selamat bermuhâsabah dengan jernih agar kita mampu meraih dan memiliki hati nan jernih. Di ‘Arafah atau dengan puasa ‘Arafah kita singkap masa lalu untuk meretas masa depan.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here