Kebebasan Individu Bukan Kebebasan Mutlak

116

Oleh: Aunur Rofiq (Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025, Ketua Dewan Pembina HIPSI/Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Tatkala kebebasan individu itu diartikan sebagai kebebasan mutlak untuk memperturutkan nafsu syahwat, bebas memenuhi kesenangan dunia tanpa etika, melepaskan diri dari ikatan adab dan akhlak yang mulia, maka kebebasan semacam ini bukanlah sesuatu yang berguna.

Kebebasan tanpa ikatan akhlak yang mulia, akan berakibat kerugian besar bagi kemanusiaan dan menjadi sebab kehancuran nilai-nilai kemanusiaan. Keruntuhan nilai-nilai suatu bangsa dimulai dari kebebasan individu yang tidak ada ikatan kendali. Bangsa-bangsa modern dan maju (disebutnya) yang mengagungkan kebebasan tersebut, saat ini warganya sudah diselimuti kegelisahan/kegalauan bukan ketenangan dan kedamaian.

Produk kebebasan itu banyak kita jumpai, orang yang galau, tidak mempunyai tujuan hidup (hanya bersenang-senang dengan pesta yang saling berturutan), bunuh diri, depresi dan penyakit-penyakit jiwa lainnya. Inikah generasi yang akan diharapkan dapat menegakkan cita-cita bangsa? Tentu jawabnya adalah “Tidak”.

Iman adalah kuncinya untuk bisa mengendalikan kebebasan individu, dengan iman akan dituntun menjalani kehidupan dunia dengan tujuan akhirat.

Iman merupakan kepercayaan, kerja dan keikhlasan. Keimanan tidak cukup hanya sekedar pembenaran pikiran atau kepercayaan dalam hati, namun harus diwujudkan dalam perbuatan riil. Maka amal perbuatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keimanan yang sempurna.

Rasulullah Saw. bersabda, “Iman itu bukanlah merupakan harapan dan bukan pula perhiasan lahir, melainkan yang tertanam dalam hati dan dibuktikan oleh perbuatan,” (HR. Ibnu Najar dan Dailami).

Amal perbuatan seseorang merupakan perwujudan dari iman, ingatlah kalau di dalam Al-Quran lebih dari 70 kali menyatakan bahwa iman terkait dengan amal perbuatan. Adapun amal perbuatan yang dimaksud adalah, amal perbuatan yang bernilai baik dalam arti luas baik untuk dunia dan akhirat, individu dan masyarakat.

Kebebasan individu yang tidak berlandaskan iman, maka tinggal menunggu saat-saat kehancuran dan kehinaan. Oleh karena itu, hanya agamalah kekuatan yang dapat menolong setiap orang dalam menyelesaikan beragam masalah yang terkait dengan akhlak dan pandangan hidup.

Islam juga menghargai hak seseorang dalam menjalankan ibadah sesuai keyakinannya (ada dalam Piagam Madinah), juga menghargai kebebasan hak milik perorangan. Kebebasan individu dengan atas nama apapun jika dilakukan dengan paksaan, maka itu menunjukkan kesombongan (arogan).

Kesopanan bisa menjadi alat untuk tidak memaksakan. Jika seseorang bertamu, tentu ia akan mengikuti adab tuan rumah, bukan seenaknya ia paksakan “kebebasannya”. Kebebasan individu hendaknya dilandasi keimanan, hal ini akan melahirkan kehidupan masyarakat yang harmonis.

Bagi orang beriman, semua aspek kehidupan itu dijalani sesuai dengan tuntunan keyakinannya, tidak akan mampu akal yang menjadi panutan.

Ingatlah firman-Nya dalam surah al-Anfal ayat 2-4 yang berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar/benarnya.”

Ketika peristiwa piala dunia yang saat ini masih berlangsung di Qatar, team Jerman sebagai tamu merasa tidak senang saat kedatangan dengan membawa “keinginannya sendiri” yang tuan rumah tidak berkenan. Team tersebut melakukan perlawanan dengan protes tutup mulut.

Hal ini kita bisa lihat bahwa tamu yang kurang hormati adab tuan rumah, seakan dia ingin memaksakan kehendaknya dengan masih menggunakan atribut warna-warni pada sepatu. Kekayaan harta, kepandaian ternyata tidak berbanding lurus dengan keimanan. Dengan beriman tentu seseorang akan menghormati dan menghargai adab tuan rumah saat bertamu.

Bagi orang muslim, gunakanlah kebebasan individumu yang tentu berlandaskan keimanan, sehingga kehidupan harmonis yang menjadi cita-cita semua bangsa akan tercipta.

“Ya Allah, bimbinglah kami agar tidak memperturutkan nafsu, tidak memaksakan kehendak dengan alasan apapun, apalagi dengan alasan yang Engkau larang. Berilah kami pengetahuan untuk kebaikan kehidupan, sehingga menjadikan hidup rukun dan bahagia”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here