‘Kantong Bocor’ karena Maksiat, Na’udzubillah!

185

Oleh: Imam Fathurrohman (Pengasuh Pesantren Tahfizhul Quran (PTQ) Pondok Bambu Parung)

Beramal shalih namun sia-sia. Siapapun pasti tak ingin memiliki kondisi tersebut. Ia merasa sudah melakukan amal shalih yang banyak, namun pahalanya hilang begitu saja.

Apakah ada orang seperti itu? Ada! Kondisi ini, salah satunya menimpa orang-orang yang gemar beribadah tapi juga gemar bermaksiat. Na’udzubillahi min dzaalik.

Hal ini disinggung Rasulullah ﷺ dalam sabdanya:

عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا »

“Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.”

Rasulullah ﷺ bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah,” (HR. Ibnu Majah no. 4245).

BACA JUGA: Keutamaan dan Janji Allah Bagi yang Sabar Hadapi Kesulitan

Dari hadits ini dapat diketahui betapa perbuatan maksiat sangat merugikan pelakunya. Tak terkecuali kepada mereka yang gemar beribadah seperti shalat, puasa, sedekah, dan lain sebagainya.

Maksiat adalah dosa yang jika dipupuk karena tidak disadari, maka akan menjadi gumpalan hitam yang menghalangi seseorang dari rahmat Allah Ta’ala. Perbuatan maksiat apapun jenisnya, dapat membuat hati seseorang menjadi gelap dan semakin gelap.

Ingatlah pada firman Allah Ta’ala di QS. Al-Muthaffifin ayat 14:

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”.

BACA JUGA: Ada Istri di Balik Sukses atau Gagalnya Suami

Ingat pula pada Allah Ta’ala:

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya,” (QS. Al-Isra’: 36).

Kisah Imam Syafi’i

Bagi seorang murid atau siapapun yang tengah menimba ilmu, jauhilah maksiat yang berdampak sangat jahat karena dapat menghalangi hadirnya Nur Allah. Upayanya menuntut ilmu akan terganjal karena maksiat, ilmunya tidak akan berkah.

Kita tentu teringat kisah ulama agung pendiri Madzhab Asy-Syafii, yakni Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah.

Suatu ketika, beliau mengeluh pada gurunya tentang hafalannya yang bermasalah. Padahal kita tahu bahwa Imam Syafi’i merupakan sosok yang memiliki daya ingat luar biasa.

BACA JUGA: 10 Kunci Agar Hati dan Jiwa Tetap Tenang (Bagian 1)

Diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i, ia berkata, “Aku telah menghafalkan Al-Quran ketika berumur 7 tahun. Aku pun telah menghafal kitab Al-Muwatho’ ketika berumur 10 tahun. Ketika berusia 15 tahun, aku pun sudah berfatwa.” (Thorh At Tatsrib, 1: 95-96).

Kepada gurunya, Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat,” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

BACA JUGA: 10 Kunci Agar Hati dan Jiwa Tetap Tenang (Bagian 2)

Demikianlah bukti jahatnya maksiat yang bisa merusak pahala dan bisa menggelapkan hati. Mumpung belum terjerembab dalam maksiat yang lebih berat, mari kita senantiasa memohon ampun kepada Allah Ta’ala atas perbuatan maksiat sekecil apapun yang pernah kita perbuat.

Jangan sampai kita terlena oleh perbuatan maksiat, meski sekecil apapun. Jangan sampai kita terbiasa bermaksiat, terbiasa enggan shalat, terbiasa berbohong, terbiasa menzhalimi diri sendiri dan orang lain, terbiasa memakan riba, bahkan menganggap biasa dosa syirik. Na’udzubillahi min dzalik.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk selalu ingat kepada-Nya agar bisa menjauhi perbuatan maksiat. Aamiin Yaa Allah.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here