Jangan Banyak Menuntut Tuhan

(Menyimak ungkapan Syeikh Ibn 'Athoillah)

73
Ilustrasi: Berdoa.

Oleh: Dr. Jazuli (Pengurus Komisi Fatwa MUI Kota Bogor, Dosen Universitas Ibnu Khaldun Bogor)

Syeikh Ibn ‘Athoillah mengatakan:

 لا تطالب ربك بتأخر مطلبك ولكن طالب نفسك بتأخر أدبك

“Sekali-sekali kamu jangan menuntut Tuhanmu, dengan sebab diulurkan permohonanmu. Tapi tuntutlah dirimu dengan cara mengulurkan tata kramamu”.

***

Dua jarak terbangun antara khaliq dan makhluq. Khaliq adalah sang pencipta, yang angkuh dan kokoh pada eksistensi-Nya: pemilik otoritas penuh tiada batas, kuasa atas segala irodat-Nya tanpa terikat. Manakala Dia berkehendak terhadap sesuatu, tinggal memijit tombol Kun Fayakun-Nya, maka terwujudlah dia.

Sementara makhluq, tergolek dan tergeletak di ruang hampa: tiada daya, tiada upaya dan tidak ada kekuatan. Tepatnya, ia tidak lebih dari sekedar wayang semata yang terpasung di bibir Kun Fayakun-Nya .

Di luar itu, hanya sebatas mengandalkan semangat teori Sunnatullah semata yang sewaktu-waktu berekspresi dan beraktulisasi seadanya.

Namun apapun realitanya, Dia sesungguhnya telah menekan fakta integritas di atas materai Lauhil Mahfuzh-Nya dengan sederet klausal nama-nama indah-Nya (al-Asma’u al-Husna). Yang dengan klausal tersebut, versi akal kita Dia wajib menyayangi, mengasihi, mengayomi dan merawat makhluq-Nya, terutama manusia, yang kadang serba tak tahu dan sadar diri.

Dia menyediakan pasilitas di ruang serba ada, dialokasikan untuk setiap makhluq-Nya tanpa kecuali. Silakan meminta sesukamu apa, kapan dan dimana saja kamu berada, Dia menjamin akan mengabulkannya, (QS. Ghafir: 60 ). Itu titik garis janji Dia yang tak mungkin diingkari (QS. Ali Imran: 194).

***

Sekali lagi harus tahu dan sadar diri, bahwa kapasitas kita tidak lebih hanya sekedar makhluq ala kadarnya. Dengan karakter kepongahan-Nya, Tuhan betul telah berjanji, bahwa Dia akan mengabulkan segala permohonan makhluq-Nya.

Namun sekali-sekali kita tidak boleh menekan Dia dengan setumpuk tuntutan. Karena Dia Maha Berkuasa di luar kalkulasi kita. Ketika kita berdoa tanpa henti-tiada batas waktu, selanjutnya ditingkahi dengan nada keluh kesah karena setelah sekian lama menunggu tapi belum juga dikabul.

Sadari dan yakinilah, bahwa ketika Dia mengulur kunci ijabah-Nya bahkan hingga batas tembok toleransi kesabaran kita roboh, sesungguhnya Dia punya agenda lain, di luar kemampuan nalar kita.

Sampai di sini, yang mesti dikedepankan adalah apa yang diungkapkan oleh Syeikh Ibn ‘Athoillah:

طالب نفسك بتأخر ادبك

“Tuntut dirimu supaya mengulur tata kramamu”.

Adab, sebutan lain dari tata krama, yakni etika sopan santun. Itu mutlak harus dimiliki seseorang secara utuh tanpa batas waktu. Adab, bisa diwujudkan dalam aneka bentuk, sikap dan perbuatan.

Dan dalam konteks ini dengan bentuk doa. Doa adalah bentuk lain dari sebuah ekspresi sikap sopan santun. Ia menjadi sebuah kemestian bagi siapapun yang selalu hadir secara kontinuitas.

اللهُ يَغْضَبُ إِن تَرَكْتَ سُؤَالَهُ. وَبُنَيَّ آدَمَ حِينَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ

“Allah, marah jika kamu tidak meminta kepada-Nya. Sementara manusia, marah jika ia diminta”.

Dengan alunan simponi doa yang terus dihidupkan, Allah amat senang mendengarnya. Yang akhirnya, hingga terlena lambat mengabulkan. Lambat mengabulkan, jangan dimaknai, bahwa Dia abai dan tidak peduli dengan sebuah rintihan.

Dia sesungguhnya amat sangat peduli, tapi ini adalah fakta lain dari sebuah cara Allah mencintai kita. Ketika Dia memperlambat pengabulan, sementara tanpa henti kita terus berdoa dan berdoa kepada-Nya, maka bersamaan dengan itu, sesungguhnya Dia telah melanggengkan rasa cinta-Nya kepada kita.

Tunggu dulu, kita jangan tergesa menyeret sebuah kesimpulan, bahwa ketika seseorang permohonannya secara instan dikabulkan kemudian divonis bahwa Allah sangat sayang kepadanya, malah justru bisa sebaliknya.

Itu bisa jadi sebuah Istidroj, yakni cara Allah hendak menghinakan seseorang, dengan terlebih dahulu diberi kesenangan di dunia.

Sekali-sekali kamu jangan terpesona melihat segelintir orang kafir dengan bergelimang harta dunia, itu sesungguhnya kecil. Dan mereka nanti dicampakkan ke neraka jahanam (QS. Ali Imran: 196).

Tuhan kadang menggagas teori berbalik yang nayaris tidak bisa kita tangkap daya tunjuk isyaratnya. Hanya orang spesifikasi tertentu yang diberi rumus untuk memahaminya. Seorang sufistik menuturkan sebuah syair berikut ini yang demikian dalam makna hakikinya:

لي لذة فى ذلتي وخضوعي * وأحب بين يديك سفك دموعي

“Dalam kehinaan dan kerendahanku, ini sebuah kenikmatan bagiku. Dan aku bisa puas menumpahkan air mataku di hadapan kebesaran-Mu”.

Sebuah tangis dan tangisan yang terlahir dari kesedaran, kecintaan dan keikhlasan adalah bentuk lain dari sebuah makna kelezatan. (*)

 والله أعلم بالصواب

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here