Ini Alasan Khalid bin Walid, Apa Alasan Kita?

434
Ilustrasi: Seorang santri bertadarus Al-Quran di Pondok Tasawuf Underground, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (06/04/2022). (Foto: Edwin B/ Muslim Obsession)

Oleh: Satria Hadi Lubis

Dikisahkan bahwa sahabat agung yang berjuluk “Saifullah al-Maslul” (pedang Allah yang selalu terhunus), Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu, setiap kali ia mengambil Mushaf Al-Quran untuk membacanya, beliau selalu menangis seraya berkata: “Kami telah tersibukkan darimu (wahai Al-Quran) oleh jihad fi sabilillah!”

Sang panglima Islam tak terkalahkan itu senantiasa menangis dengan penuh rasa bersalah. Karena menurut beliau, ia kurang banyak membaca Kitabullah dengan alasan syar’i yang demikian indah, mulia dan agung, yaitu sibuk dengan jihad, yang tak lain adalah dalam rangka memperjuangkan dan membela ajaran serta nilai-nilai Al-Quran itu sendiri.

Ya… jika kesibukan jihadlah alasan Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu sehingga agak jarang tilawah, lalu apakah gerangan alasan kita selama ini ketika jarang menyentuh dan membaca Kitabullah? Bahkan mungkin ada yang sampai seolah-olah tengah “berseteru” dengan Al-Quran karena begitu langkanya ia “menyapa”-nya?

Dan apakah kita menangis karenanya, seperti tangisan sahabat Khalid?

Dan apakah kesibukan kita senilai dengan kesibukan jihad Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu? Padahal tak ada amal yang lebih baik setelah shalat selain jihad di jalan Allah?

“Sesungguhnya seutama-utama amal sesudah shalat adalah jihad di jalan Allah Ta’ala,” (HR. Ahmad).

Mari bertobat dan beristighfarlah..! Merasa bersalah dan berdosa karena selama ini lebih sering jauh dari Kitab-Nya, Al-Quran Al-Karim!

Kalau perlu menangislah disebabkan jarangnya kita membaca “surat cinta” dari Allah itu. Jika ternyata sulit untuk bisa menangis, maka sudah sepantasnyalah kita menangisi kerasnya hati yang telah demikian membatu karena tidak atau jarang tersirami oleh hujan barakah Al-Quran!

Mari selalu membaca Al-Quran, mengakrabinya seakrab-akrabnya, dan mengharmoniskan hubungan kita dengannya, seharmonis-harmonisnya!

Sehingga, dengan demikian, barakah Allah insyaallah senantiasa “menyapa” kita, mengakrabi kehidupan kita, dan mengharmoniskan setiap langkah hidup kita dengan hidayah, inayah dan taufiq Allah ‘Azza Wa jalla.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here