Indonesia Butuh Para Pahlawan untuk Hadapi Serangan Mental dan Ideologi

96
Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Hj. Melani Leimena Suharli. (Foto: Fikar/OMG)

Muslim Obsession – Pahlawan bukan hanya mereka yang berjuang melawan penjajah demi sebuah kemerdekaan. Pahlawan juga bukan hanya orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.

Pahlawan juga bisa dialamatkan bagi siapapun yang telah memberikan kontribusi yang berpengaruh untuk kepentingan orang banyak, baik kontribusi fisik maupun pemikiran yang bermanfaat bagi kepentingan bangsa dan umat manusia.

“Bisa disebut juga sebagai Pahlawan adalah mereka yang rela mengorbankan ego dan kepentingan pribadinya untuk mencapai tujuan mulia untuk kepentingan umum yang mulia. Kerelaan berkorban demi tujuan mulia tanpa pamrih. Ini adalah poin penting untuk disebut sebagai pahlawan,” urai Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Hj. Melani Leimena Suharli dalam keterangan tertulisnya kepada Muslim Obsession, Rabu (10/11/2022).

BACA JUGA: Melani dorong UMKM Naik Kelas dengan Perlunya Nomor Induk Berusaha

Putri Pahlawan Nasional Dr. Johannes Leimena ini merasa bersyukur bahwa masyarakat di Tanah Air selalu mengenang jasa-jasa para pahlawan, antara lain dengan selalu memperingati Hari Pahlawan di setiap tanggal 10 November.

Sikap tersebut menurutnya sangat penting karena kondisi saat ini membutuhkan pahlawan-pahlawan baru yang compatible dengan tantangan kekinian. Dibutuhkan pahlawan era kekinian yang mampu menjawab problematika bangsa dan umat yang terus berkembang.

“Ancaman yang merusak tatanan bangsa ini bukan lagi penjajahan secara fisik. Tantangan terbesar pahlawan era milenial adalah ancaman serangan mental dan ideologi yang merusak perdamaian bangsa. Karenanya, bangsa ini butuh pahlawan dalam segala aspek yang mampu mengorbankan jiwa, raga dan pikiran untuk menjaga perdamaian bangsa ini,” ujar Hj. Melani.

Melani mengungkapkan sebuah fakta, temuan beberapa survey yang dapat memunculkan kegelisahan rakyat Indonesia. Beberapa di antaranya adalah temuan Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang mencatat, dalam kurun waktu 13 tahun, masyarakat yang pro terhadap Pancasila telah mengalami penurunan sekitar 10%, dari 85,2% pada tahun 2005 menjadi 75,3% pada tahun 2018.

BACA JUGA: Melani Suharli: Perjuangan Para Pahlawan Harus Tetap Berlanjut

Sementara Center for Strategic and International Studi (CSIS) pada 2017 juga mencatat sekitar 10% generasi milenial setuju mengganti Pancasila dengan ideologi yang lain.

Dan Survei Komunitas Pancasila Muda yang dilakukan pada akhir Mei 2020 mencatat hanya 61% responden yang merasa yakin dan setuju bahwa nilai-nilai Pancasila sangat penting dan relevan dengan kehidupan mereka.

Sementara 19,5% di antaranya menganggap Pancasila hanya sekadar istilah yang tidak dipahami maknanya.

“Survey ini memberikan sinyal atau rambu-rambu, bahwa kita tidak boleh menyepelekan dan lengah terhadap tantangan kehidupan bernegara di era digital,” tegasnya.

Padahal, sambung Melani, Pancasila merupakan suatu sistem yang akan mampu menjadi filter di era digital, dengan syarat setiap warga Indonesia mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari dan mentransfer nilai tersebut kepada generasi bangsa.

BACA JUGA: Hj. Melani L Suharli: Anggota DPR Harus Pintar Baca Tantangan Zaman

Ia mengakui bahwa kecanggihan teknologi dapat membantu setiap aktivitas manusia, namun pesatnya perkembangan teknologi memerlukan filter untuk dapat menyaring hal-hal yang baik bermanfaat dan hal-hal yang sia-sia atau bahkan informasi yang memberi pengaruh buruk.

Ketidak-hati-hatian dan kebebasan dalam menyikapi teknologi memungkinkan terjadi penyimpangan dan kerugian, kemerosotan nilai-nilai moral dan mengancam eksistensi nilai-nilai luhur bangsa.

“Yang pasti adalah kita semua harus menjadi contoh bagi para anak-anak muda, bagaimana mewarisi nilai-nilai para pahlawan dan bagaimana cara menghargai jasa para pahlawan. Jangan sampai anak-anak muda mengambil contoh justru dari sumber-sumber yang tidak kompeten. Apalagi di zaman terbuka ini, teknologi membuka ruang selebar-lebarnya kepada siapapun untuk meniru sosok terkenal dengan mudah,” tandasnya.

Melani menyadari bahwa era digital adalah fakta dan kenyataan yang harus dihadapi. Generasi muda sebagai penerus cita-cita bangsa harus dibekali dengan nilai-nilai luhur agar mampu terus eksis mengikuti perkembangan dunia tanpa meninggalkan ciri khas dan nilai-nilai luhur bangsa.

Oleh karenanya ia berharap agar setiap individu terus memperdalam dan menggali makna nilai luhur Pancasila dalam teori dan praktik dalam kehidupan sehari-hari agar bisa memberikan sosialisasi dan keteladanan kepada generasi muda tentang nilai-nilai luhur Pancasila  dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

“Kita harus mampu memanfaatkan kemajuan Iptek dalam mengamalkan dan mengimplementasikan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita bisa mengisi kemerdekaan yang sudah direbut dengan darah dan air mata oleh para pahlawan kita dengan hal-hal yang positif untuk ikut membangun, memajukan dan mensejahterakan bangsa dan negara,” tutupnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here