Gus Dur Nonton Wayang Selalu Ngumpet Karena Takut Dimarahi Mbah Hasyim

163
Almarhum KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. (Foto: geotimes.co.id)

Jakarta, Muslim Obsession – KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ternyata punya ketertarikan besar dengan wayang. Bahkan sewaktu kecil Gus Dur kerap kali menonton pertunjukan wayang di desa-desa sampai Subuh.

Namun hal itu dilakukan Gus Dur secara diam-diam karena takut dimarahi kakeknya, pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Gus Dur masih sempat mendapat bimbingan dan pengajaran dari kakeknya saat masih anak-anak.

Dilansir dari NU Online, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr Lilik Ummi Kaltsum menceritakan sejak kecil Gus Dur memang sering diasuh Mbah Hasyim.

Kiai Hasyim mendidik Gus Dur dengan mengajarkan materi-materi keagamaan seperti cara membaca Al-Quran yang baik dan benar, shalat, dan praktik ibadah lainnya.

Gus Dur juga diajarkan cara bersikap yang baik terhadap siapa pun. Di sisi lain, Gus Dur sering menonton pertunjukan wayang sejak kecil. Gus Dur melakukan itu tanpa memberitahu kakeknya.

“Gus Dur ketika kecil suka nonton wayang, bahkan sampai Subuh. Keluar pun tanpa meminta izin kepada Mbahnya,” ujar doktor kelahiran Surabaya tersebut saat Webinar Haul Ke-11 Gus Dur dengan tema Gus Dur di Mata Para Cendekiawan yang diselenggarakan Gusdurian Ciputat pada tahun lalu.

Namun, kebiasaan Gus Dur itu tidak membuat marah kakeknya. Bahkan Kiai Hasyim mengalihkan perhatian Gus Dur untuk belajar bahasa asing kepada seorang pengusaha gula Belanda saat itu. Sehingga, Gus Dur semasa kecil sudah menguasai bahasa-bahasa asing seperti bahasa Belanda, Jerman, dan Inggris.

Gus Dur juga mengenal musik-musik Barat seperti simfoni. Semenjak wafat kakek dan ayahnya, Gus Dur menjadi sosok yang menjadi harapan bagi keluarganya untuk membantu mencari nafkah.

Sejak usia SD, ia membantu perekonomian dengan menjual beras. Berjualan dari pagi dengan naik angkot sampai pulangnya naik truk. Di sela-sela berjualannya, Gus Dur juga menyempatkan untuk membaca buku.

Karena kesibukan dan perjuangannya, Gus Dur sampai tidak naik kelas. Selain berjualan, ia juga membantu ibunya untuk mengurus kelima adiknya.

“Kesibukan dan tanggung jawabnya yang luar biasa inilah, Gus Dur sampai tidak naik kelas secara sekolah formal,” kata Lilik yang juga anggota pentashih Al-Quran Kementerian Agama. (Albar)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here