Guru Bahagia Sukses dan Mulia

141

Oleh: Ahmad Tavip Budiman (Ketua Komisi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat – MUI Kota Bogor Masa Khidmat 2022-2027)

Guru dalam Undang-Undang tentang Guru dan Dosen diartikan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Namun dalam Islam guru merupakan ahli waris Nabi Muhammad ﷺ (al-‘ulama waratsatul anbiya’), bahkan guru nyaris diibaratkan seperti rasul (kada al-mu’allim rasulan) oleh karenanya dalam melaksanakan kegiatan pendidikan guru tidak boleh salah, harus sempurna. Sebab, kesalahan dalam mendidik dapat mengakibatkan estafet keburukan (jariayatus su’) bagi peserta didik yang berujung pada kerusakan pada generasi mendatang.

Fakta sejarah menyebutkan bahwa keberadaan guru sangat penting bagi keberlangsungan umat manusia. Keberadaan guru sejajar dengan dokter. Keengganan menerima nasihat guru dan menjauhinya hanya akan mengakibatkan kebodohan.

إنَّ الْمُعَلِّمَ وَالطَّبِيبَ كِلَاهُمَا لَا يَنْصَحَانِ إذَا هُمَا لَمْ يُكْرَمَا

فَاصْبِرْ لِدَائِك إنْ أَهَنْت طَبِيبَهُ وَاصْبِرْ لِجَهْلِك إنْ جَفَوْت مُعَلِّمَا

Jika dokter berfokus pada pembenahan dan pembangunan raga bangsa, maka guru lebih utama dari itu karena membangun jiwa, akal, dan mental umat manusia agar selaras dengan misi kekhalifahan manusia di muka bumi, yaitu memberantas kebodohan dan memerangi kezhaliman.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzab: 72).

BACA JUGA: Bahasa Arab Sebagai Bahasa Al-Quran

Memahami Kebahagiaan

Pada hakikatnya tujuan semua manusia yang dilahirkan ke alam dunia ini secara naluri alamiahnya pasti tidak mengelakkan untuk dapat mencapai kehidupan yang bahagia.

Syed Muhammad Naquib Al-Attas mengingatkan bahwa, penekanan pada individu mengimplikasikan pengetahuan akal, nilai, jiwa, tujuan, dan maksud yang sebenarnya dari kehidupan ini. Sebab akal, nilai, dan jiwa adalah unsur-unsur inheren setiap individu.

Berdasarkan konsepsi mengenai eksistensi manusia inilah, al-Attas membangun suatu pandangan mengenai kebahagiaan. Terdapat dua jenis kebahagiaan yaitu, kebahagiaan yang dirasakan oleh badan dan kebahagian yang dirasakan oleh jiwa.

Sifat kebahagiaan badan adalah berubah-rubah dan cepat rusak. Adapun kebahagiaan jiwa bersifat kekal. Badan yang sifatnya tidak berbeda dengan materi dunia akan memeroleh kebahagiaannya dari kehidupan dunia.

BACA JUGA: Membentuk Pemuda Bervisi Aswaja

Sedangkan jiwa yang bersifat kekal akan memeroleh kebahagiaan dari suatu bentuk kehidupan yang kekal. Mulai dari dunia hingga akhirat.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (QS. Al-Baqarah: 201).

Konsep Al-Attas mengenai tujuan hidup yang lebih mengutamakan kehidupan akhirat bukan berarti ia menolak akan keberadaan kebahagiaan dunia. Ia menyatakan bahwa tujuan manusia adalah mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Akan tetapi tujuan akhir yang di prioritaskan adalah kebahagiaan akhirat, karena lebih utama dan sifatnya abadi.

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ

“Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan),” (QS. Adh-Dhuha: 4).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here