Gempa Bertubi, Dua Dandim, Satu Komando (Bagian 2)

Kenangan Anggota Doni Monardo dari Singaraja dan Kariango.

200

Manajemen Alur Bantuan

Para Kades dan Camat juga hadir di setiap kelompok. Mereka yang berfungsi menjadi pengawal sekaligus pengawas, sehingga semua sistem berjalan bagus sampai tuntas. Distribusi logistik, sempat mengalami kendala memasuki Kecamatan Ulumanda, karena akses jalan putus.

“Saya minta bantuan helikopter kepada pak Doni untuk mendistribusikan bantuan. Begitu datang helikopter, semua berjalan lancar. Wilayah terdampak yang tidak bisa diakses kendaraan, saya perintahkan Babinsa untuk menembus dengan sepeda motor. Saya perintahkan, kendalikan masyarakatmu jangan sampai rebutan, dan jangan sampai jatah satu desa jatuh ke desa yang lain,” tegas Yudi mengulang perintahnya.

Tidak hanya itu, Yudi juga menginstruksikan para Babinsa mencari titik-titik yang bisa dijadikan helipad, atau pendaratan helikopter. Setelah Babinsa turun tangan, bekerjasama dengan unsur Babinkhamtibmas dan lain-lain, persoalan makin terkendali.

Doni Monardo kembali mengunjungi Majene di kesempatan lain, khusus untuk mengecek akses jalan yang terputus.

“Rombe, ini bagaimana?” kata Doni menunjuk akses jalan yang masih terputus. Yudi sigap menjawab, “Izin Bapak, saya sudah memanggil Dinas PUPR dan Zipur ke sana. Semua sudah berjalan, beberapa titik jalur putus, sudah mulai tersambung. Kami juga merekolasi satu dusun,” lapor Yudi kepada Doni.

Problem penanganan bencana Mamuju-Majene tidak hanya persoalan evakuasi korban, logistik, dan perbaikan akses jalan yang terputus, tetapi juga pengendalian Covid-19. “Pertama pak Doni datang, sempat ditegur karena banyak yang tidak pakai masker. Tapi kemudian pak Doni mengirimkan bantuan masker lewat Deputi BNPB Ibu Prasinta,” katanya.

Semua bantuan langsung didistribusikan. Kebetulan, tenda-tenda pengungsian pun sudah dipilah sesuai instruksi Doni Monardo. Untuk ibu-ibu tenda sendiri. “Kebetulan ada dua kasus melahirkan,” katanya.

“Meski pak Doni tidak tiap hari di Majene, karena posko beliau di Mamuju, tapi semua instruksinya saya jalankan. Sebab saya tahu persis karakter beliau, perfeksionis. Sekali kasih perintah, pasti akan dicek. Jadi tentang prokes juga menjadi perhatian saya, karena beliau menekankan pentingnya memakai masker. Sebab, dalam situasi seperti itu, kerumuman pasti tak terhindarkan,” katanya.

Kenangan Kariango

Yudi Rombe dua tahun menjadi perwira di bawah Doni Monardo, saat Doni menjabat Danbrigif Linud 3/Tri Budi Mahasakti (2006—2008) Kariango, Sulawesi Selatan. Terinspirasi kepemimpinan Doni, maka Yudi Rombe dalam bekerja menangani bencana alam di Majene pun menyandarkan semua tindakannya kepada konsep kerja ikhlas.

“Bahwa kemudian mendapat apresiasi, terima kasih. Tetapi saya bekerja tidak mengejar apresiasi. Itu didikan yang saya dapat dari pak Doni, maupun saat menimba ilmu di Seskoad. Itu pula yang saya praktikkan, di berbagai medan tugas. Pernah menangani bencana banjir di Kendari, saat menjadi Kasi Ops Korem,” ujarnya.

Kisah Tragis

Mengisahkan interaksinya dengan Doni Monardo di Kariango, ada satu peristiwa yang tidak pernah bisa ia lupakan. Peristiwa itu terjadi sangat cepat, dan ia menjadi saksi mata. Disebutkan, pada suatu masa, prajurit latihan terjun payung.

“Nah, satu payung ada yang tidak mengembang sempurna. Mengetahui itu, pak Doni sebagai Dan Brigif lari sangat kencang. Ketika di depan ada lubang yang sangat lebar, beliau melompat setinggi-tingginya. Ukuran normal, saya kira tidak ada manusia yang mampu melompat sejauh itu, tapi entah karena apa, pak Doni berhasil melompati lubang itu, dan berhasil menangkap prajuritnya yang nahas itu. Kejadian itu tidak akan pernah saya lupakan,” kisah Yudi Rombe.

Atas peristiwa itu, Doni pun mengingat dengan baik dan berkomentar, “Alhamdulillah walaupun payung kuncup namun anggota tidak cedera serius. Masalah keamanan harus nomor satu. Tidak boleh ada yang cedera apalagi sampai meninggal karena latihan. Di daerah operasi juga. Target berangkat dan pulang harus dengan jumlah yang sama serta misi berhasil dilaksanakan,” kenangnya. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here