Gempa Bertubi, Dua Dandim, Satu Komando (Bagian 2)

Kenangan Anggota Doni Monardo dari Singaraja dan Kariango.

149
Letkol Yudi Rombe mengevakuasi jenazah di Majene, Sulbar. (Foto: egy)

Catatan Egy Massadiah dan Roso Daras

Lomba Militer, Ibarat Persiapan Perang

Tri Aji pun mengisahkan, saat-saat berada di bawah komando Doni. “Waktu itu saya Letnan Dua, baru selesai tugas operasi Timtim, dan langsung ditempatkan di Batalyon Singaraja. Saat saya masuk, masih komandan lama. Dua bulan kemudian, masuk pak Doni menjadi Danyon berpangkat letnan kolonel,” ujarnya.

Yang terkesan ketika itu, bagaimana Doni menggembleng kesamaptaan prajurit batalyon yang dipimpinnya. Ia bahkan membentuk Peleton Tangkas, di mana Tri Aji yang ditunjuk menjadi komandan peleton (Danton).

“Setiap hari kami digembleng fisik, lalu diarahkan untuk menciptakan rekor-rekor tertentu dalam cabang olahraga. Baik olahraga militer maupun cabang olahraga umum,” kenang Tri Aji.

Doni menginginkan prajuritnya bisa mengukir prestasi di Porad, Pekan Olahraga TNI Angkatan Darat yang mempertandingkan cabang-cabang olahraga militer dan cabang-cabang olahraga umum.

“Sebelum ikut Porad, batalyon kami nyaris tidak ada yang kenal. Tapi setelah kami keluar sebagai Juara IV, barulah batalyon Singaraja mulai dilihat orang,” ujar Tri Aji bangga.

Betapa tidak, di event Porad, atlet-atlet Batalyon Singaraja harus bertanding dengan atlet-atlet prajurit dari kesatuan lain yang sudah kesohor.

“Juara 1 Kopassus. Ya, itu kesatuan lama pak Doni kan? Pantaslah. Kemudian juara 2 Kostrad Cilodong, juara 3 Kodam Jaya, dan juara 4 batalyon Singaraja. Wah kami bangga sekali bisa berprestasi di tingkat nasional,” katanya.

Tri bahkan yakin, jika waktu latihan lebih lama, bisa berprestasi lebih bagus. “Kami digembleng enam bulan. Dan saya kira semua prajurit yang pernah dipimpin beliau, pasti tahu, dalam menggembleng beliau tidak hanya memberi perintah, tetapi terlibat langsung. Ketika itu, beliau adalah sosok paling tangguh. Tidak ada prajurit lain yang mampu mengalahkan fisiknya,” puji Tri.

Kontingan terdiri atas 31 orang. Kesemuanya harus bisa dan siap diterjunkan di cabang mana pun. Baik olahrara militer, seperti lari lintas medan, renang militer, menembak, dan lain-lain. Olahraga umum seperti sepakbola, voli, tenis dan lain-lain. “Di cabang umum, saya masuk tim sepakbola,” ujar lulusan Akmil 1997 itu.

Seni Perang

Suatu ketika saya bertanya kepada Doni, mengapa ia begitu all out menyiapkan anggotanya untuk lomba olahraga, padahal mereka kan unsur militer, bukan atlit?

Menurut Doni, menyiapkan pasukan untuk ikut lomba olah raga militer adalah ibarat persiapan menuju medan perang perang.

“Ini semacam latihan mengukur kemampuan pasukan. Kita siapkan latihannya, makanannya, juga mentalnya. Jadi kegiatan lomba olah raga militer adalah juga persiapan berangkat bertempur, berangkat ke medan perang. Komandan Kompi, Komandan Batalyon wajib belajar mengatur strategi. Mengatur dan mengukur kekuatan anak buah. Ini sebuah seni,” ungkap Doni.

Dalam pertandingan olah raga sipil, seorang atlit umumnya bertanding cukup dalam satu kecabangan. Namun dalam lomba olah raga di dunia militer, seorang atlit bisa ditugaskan bertanding beberapa cabang. “Misalnya seorang atlit militer bertanding di cabang lari, terus renang, sepak bola dan juga menembak. Satu orang ikut lomba di empat cabang,” kata Doni memberi contoh.

Intinya, Doni menanamkan ruh slogan “lebih baik mandi keringat di dalam latihan daripada mandi darah dalam penugasan di medan tempur”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here