Gelar Wayangan di Pesantren, Gus Miftah: Budaya Bukan Musuh Agama

106
KH. Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah.

Yogyakarta, Muslim Obsession – Pengasuh Ponpes Ora Aji, Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah tak setuju dengan pendapat orang yang mengatakan wayang tidak dibenarkan dalam Islam dan lebih baik dimusnahkan.

Pendapat tersebut kekeliruan dalam berpikir, dan sangat menyingung para seniman. “Saya enggak setuju, diharam-haramkan, dimusnahkan, jelas itu menyinggung perasaan para seniman,” kata Gus Miftah di Pasar Kembang, Gedongtengen, Kota Yogyakarta, Rabu (16/2) malam.

Gus Miftah mengatakan, budaya bukanlah musuh agama. Agama juga tidak bisa dijauhkan atau lepas dari agama. Justru sebaliknya agama banyak dianut orang dari budaya. Seperti halnya wayang.

“Yang jelas kalau konsep dakwah saya adalah membudayakan agama, bukan mengagamakan budaya. Artinya apa, budaya bukan musuh kita. Justru harus kita lestarikan dengan cara agama,” tutur pendakwah nyentrik itu.

Sebagai wujud pelestarian budaya itu dan merespons polemik haram, Gus Miftah berencana menggelar acara wayangan atau pertunjukan wayang di ponpesnya, Sabtu (19/2) malam esok.

Acara ini, lanjut Miftah, rencananya menghadirkan sederet seniman dan pedalang dari wilayah DIY dan Jawa Tengah. Dua nama yang Gus Miftah sebut, adalah Yati Pesek dan Warseno Slank.

“Kita akan meresponsnya dengan cara pagelaran seni di pondok,” katanya.

Sementara itu, Khalid Basalamah dalam klarifikasinya menyampaikan tiga poin. Pertama ia menyarankan agar menjadikan Islam sebagai tradisi, bukan menjadikan tradisi sebagai Islam. Tapi jika tradisi itu sejalan dengan nilai-nilai Islam, maka tidak masalah.

Khalid juga menegaskan tidak ada kata-kata dari mulutnya yang mengatakan wayang itu haram.

“Dan tidak ada kata-kata saya di situ mengharamkan. Saya mengajak agar menjadikan Islam sebagai tradisi. Makna kata-kata ini juga kalau ada tradisi yang sejalan dengan Islam, tidak ada masalah dan kalau bentrok sama Islam, ada baiknya ditinggalkan. Ini sebuah saran,” ujarnya.

Kedua, perihal pertanyaan bagaimana taubatnya dalang. Menurut Khalid, pertanyaan tersebut mirip dengan bagaimana taubatnya seorang pedagang, seorang guru, atau yang menyangkut profesi.

“Maka saya sebagai seorang dai Muslim menjawab. Umumnya kaum Muslimin dan setiap Muslim umumnya akan merasa bahagia, senang, kalau diajak bertaubat. Dan jawabannya memang taubat nasuha, kembali kepada Allah dengan taubat yang benar,” kata dia.

Sementara poin terakhir soal pemusnahan barang jika seseorang telah bertaubat dan tidak tahu harus bagaimana terhadap barang-barangnya tersebut.

“Saya sama sekali tidak berpikir ataupun punya niat untuk menghapuskan ini dari sejarah nenek moyang Indonesia atau misalnya menyuruh dalang-dalang bertaubatlah kepada Allah. Atau misalnya semua yang harus dimusnahkan. Anda mau melakukannya itu hak Anda, kami sedang ditanya, mohon maaf, lingkup taklim kami,” kata dia.

Ia pun meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa terganggu maupun tersinggung atas pernyataannya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here