Etika Gen Z di Dunia Kerja

545

Oleh: M. Brian Mayzan (CEO Sertifikasiku)

Setiap generasi memiliki ciri khas etika yang selalu berbeda dengan generasi sebelumnya. Perbedaan rasa etika itu sering menjadi benturan antar generasi. Realita ini terjadi di semua tatanan kehidupan sosial mulai dari lingkungan rumah dan luar rumah. Memiliki etika dalam berkehidupan sosial sangat penting bagi semua orang.

Hal ini tercermin dalam lingkup pekerjaan di mana perusahaan terdiri dari banyak orang sebagai karyawan. Etika ini melekat disemua level baik itu direktur, manajer, serta karyawan di semua tingkatan.

Setiap orang yang tergabung dalam suatu perusahaan perlu menerapkan etika dasar karyawan. Etika merupakan filsafat yang mengandung nilai-nilai dalam suatu tindakan manusia, meliputi perilaku perbuatan, perkataan, hingga bahasa tubuh.

Generasi Z adalah mereka yang memiliki rentang tahun kelahiran mulai dari 1996 sampai 2009. Banyak cerita tentang ulah dari etika Generasi Z dalam dunia kerja. Diawal tahun 2023, beberapa media membahas terkait kelakuan Gen Z. Media online Metro, memberitakan Gen Z memiliki pringkat puncak tranding topic Twitrer Indonesia. Gen Z ada di posisi ke-11 dengan jumlah tweet 15,5 ribu kali.

Kelakuan Gen Z ini pertama kali diunggah oleh akun Twitter Vina @revina_vt. Ia mengatakan kalau Gen Z memiliki kelakukan buruk di tempat kerja. “Gen Z emang beda, kerja, dikasi gaji yang pantas, tiba2 beberapa hari ga ada kabar, ga ada kerjaan masuk, dihubungin gak bisa.. dicariin ga ditanggepin sama sekali.. kereeeeeeeen,” katanya. Demikian beberapa contoh terkait kelakuan Gen Z yang sempat menjadi tranding topic di jagat maya.

Ada beberapa karakter Gen Z yang sudah banyak terpublish diantaranya suka kebebasan, memiliki ambisi yang besar, menginginkan kepastian, berprilaku instan dan menyukai hal detail. Yang sering terjadi di perusahaan adalah karakter kebebasan. Karakter tersebut membuat banyak perusahaan mengeluhkan, karena dengan mudahnya Gen Z untuk keluar dari pekerjaan.

Mereka dengan mudah dan tanpa beban untuk berpindah kerja ketika ada kesempatan yang lebih menjanjikan di perusahaan lain. Padahal kenyataannya tidak ada satu tempatpun yang sesungguhnya bisa menjamin kenyamanan dalam bekerja. Suasana kebatinan yang nyaman dalam bekerja kunci utamanya kembali kepada diri sendiri.

Perusahaan tentunya bukan hanya tempat untuk menghasilkan uang. Tetapi perusahaan juga sebagai organisasi untuk menjalankan kehidupan sosial. Untuk itulah etika sangatlah diperlukan. Dengan memiliki etika yang baik dan sesuai norma, terbukti ampuh untuk atasan memberikan apresiasi kepada bawahannya.

Apresiasi diberikan kepada karyawan yang memiliki dedikasi dan loyalitas tinggi, kemampuan terbaik, semangat kerja tinggi dan selalu siap menerima tantangan yang ada. Pada akhirnya pimpinan akan melihat, seberapa jauh semangat karyawannya untuk berkontribusi dalam memajukan perusahaan.

Hal pertama dan utama yang wajib diterapkan oleh semua orang di tempat kerja yaitu sikap menghormati kepada sesama. Sikap menghormati bukan hanya ditujukan terhadap mereka dengan pangkat lebih tinggi, melainkan juga kepada semua orang, tanpa memandang apakah ia atasan, rekan sesama karyawan, hingga bawahan sekalipun.

Menghormati rekan kerja yang memiliki keyakinan berbeda hingga perbedaan pandangan politik adalah contohnya.

Menghormati bukan berarti harus satu kata atau menyepakati pilihan seseorang. Akan tetapi lebih kepada menunjukkan sikap menghargai pilihan orang lain tanpa mengganggu personalnya. Menghargai jadwal orang lain juga termasuk sikap respectful.

Hal ini juga berkaitan dengan ketepatan waktu saat menghadiri rapat ataupun briefing singkat di pagi hari. Memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pandangan atau gagasannya hingga tuntas adalah sikap teladan.

Memperhatikan Penampilan dan Kerapian di Tempat Kerja Termasuk etika dasar karyawan yaitu memahami bagaimana cara berpakaian dan berpenampilan secara keseluruhan. Penilaian terhadap karyawan bukan hanya dilihat dari kinerjanya saja. Nyatannya, pakaian juga memengaruhi citra Anda.

Tidak sibuk dengan handphone saat terlibat dalam interaksi juga menunjukkan bahwa Anda menghargai keberadaan orang lain. Menghormati sesama rekan kerja dan semua orang di perusahaan adalah cara yang tepat untuk menunjukkan karakter sebenarnya.

Setiap karyawan juga perlu memahami kerjasama tim. Etika dasar karyawan di tempat kerja tidak terlepas dari kesadaran akan pentingnya teamwork. Kesuksesan perusahaan tidak ditentukan oleh satu orang, melainkan tiap-tiap anggota yang bekerja bersama-sama. Untuk itu, pahami apa tugas utama dan maksimalkan kompetensi yang dimiliki untuk menyelesaikannya. Berikan kepercayaan kepada rekan satu tim untuk menghandle tugas lainnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, tentu Gen Z akan belajar dari berbagai proses yang sudah dijalani. Kemajuan teknologi tentu tidak membuat buta terhadap etika dan estetika dalam menempatkan diri untuk interaksi kehidupan.

Gen Z lahir tidak serta merta, namun keberadaan Gen Z tak lepas dari kehadiran generasi sebelumnya. Agar Gen Z bisa diterima dengan baik eksistensinya dimasayarakat atau di dunia kerja, maka Gen Z harus mampu menghindari demotivasi saat bekerja. Agar terhindar dari julukan sebagai generasi “manja” oleh banyak orang, yang tentu akan merugikan perusahaan.

Hal yang lebih penting Gen Z menghindari etika buruk, karena etika adalah hal pertama yang akan dilihat terlebih dahulu. Tentu tiap individu perlu menerapkan etika yang baik agar mendapatkan kesan pertama yang baik pula.

Contoh lainnya dengan datang terlambat saat wawancara kerja, tentu akan mendapat cap sebagai kandidat yang kurang profesional. Oleh sebab itu, Gen Z perlu berlatih memberikan kesan pertama yang baik agar memiliki peluang yang lebih besar dalam mencapai karier yang diinginkan. [**]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here