Empat Tipe Pemimpin Indonesia, Nomor Empat Ada pada Anies Baswedan

177
Smith Al-Hadar (Foto: Edwin B/OMG)

Jakarta, Muslim Obsession – Smith Al-Hadar menyebut bahwa ada empat tipe pemimpin Indonesia, jika merujuk pada realitas politik di tingkat elit.

Dari keempat tipe itu, jelas Al-Hadar, Anies Baswedan yang saat ini digadang-gadang terpilih menjadi Presiden RI pada Pilpres 2024 memiliki tipe keempat.

Tipologi pemimpin yang disebutkan Al-Hadar menjadi salah satu sentral dari buku yang ditulisnya bersama Dr. Abdurrahman Syehbubakar berjudul ‘Anies Baswedan: Gagasan, Narasi, dan Karya’ Menjawab Tantangan Masa Depan Bangsa’.

Buku tersebut menjadi objek diskusi dalam kegiatan bedah buku yang digelar Forum Umat Islam (FUI) dan Gerakan Muslim Jakarta di Aula Masjid Baiturrahman Jl Dr Saharjo 100 Menteng Atas, Jakarta Selatan, Jumat (14/10/2022) malam.

BACA JUGA: FUI Ajak Umat Islam Berjuang untuk Kemenangan Anies Baswedan

“Melihat realitas politik di tingkat elit, saya setidaknya membagi pemimpin yang ada di Indonesia empat tipe,” ujar Al-Hadar.

Tipe pertama, kata Al-Hadar, adalah pemimpin yang gagasannya besar namun tidak mampu menerjemahkan gagasan ini ke dalam pilihan kebijakan, apalagi melaksanakan program. Al-Hadar mengatakan, tipe ini lebih tepat disebut pemimpi, bukan pemimpin.

“Ada nggak kira-kira elit politik yang seperti ini?” tanya Al-Hadar yang disambut dengan jawaban ‘ada’ oleh audiens.

“Banyak ya.. banyak, alias tidak sedikit,” tambah Al-Hadar.

Tipe kedua, lanjutnya, adalah pemimpin dengan tipe manajer. Pemimpin seperti unggul dalam operasional, namun tidak punya gagasan, tidak punya pikiran. Saat ia mengerjakan sesuatu, mengambil kebijakan dan program, pemimpin tipe ini lebih berdasarkan kebiasaan.

“Dalam istilah saya, menang bisa karena terbiasa. Jadi kita jalan di tempat,” ucapnya.

Tipe ketiga, tambah Al-Hadar, merupakan jenis yang sangat buruk. Pemimpin bertipe ini tidak memiliki gagasan, tidak mampu melaksanakan kebijakan, dan tidak mau melaksanakan kebijakan dan program yang dirumuskan. Dan yang paling parah adalah dia menjadi senter dari segala kerusakan dalam penyelenggaraan negara.

“Dia menjadi episentrum dari oligarki, dia memfasilitasi tindakan koruptif yang dilakukan oleh penyelenggara negara, maupun aktor di luar negara, ini sangat buruk. Jadi dia terhalang dari kebenaran dan keadilan. Ini tipe pemimpin plastik atau pemimpin yang jahil, jahat dan dungu,” jelasnya.

Al-Hadar lalu bertanya kepada peserta, kira-kira ada tidak pemimpin seperti ini di Indonesia? Dijawab oleh peserta diskusi buku tersebut. “Banyak,” ucap peserta, serentak.

Terakhir, tipe pemimpin otentik. Yakni tipe yang saat ini tengah dicari-cari seluruh rakyat Indonesia. Ciri-cirinya apa?

Al-Hadar menjelaskan, pemimpin otentik ini memiliki gagasan besar. Ia pun mampu menerjemahkan visi atau gagasan besar ke dalam narasi, sehingga dapat dipahami oleh berbagai kalangan, baik di pemerintah maupun di luar pemerintah. Kemudian narasi ini menjadi landasan untuk memformulasikan kebijakan yang tepat.

“Nah, kebijakan ini dilaksanakan dengan menggerakkan segala sumbar daya yang tersedia, baik di pemerintah maupun di luar pemerintah,” tuturnya.

Al-Hadar menadaskan, yang paling penting dari pemimpin tipe ini adalah memiliki keberanian politik untuk membongkar sistem atau melawan anasir jahat di dalam sistem itu. Dia menjelaskan, anasir jahat itu salah satunya yang paling pokok adalah kekuatan oligarkhi.

“Ada nggak pemimpin seperti ini? Ada, seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Tapi Insya Allah ada,” ujarnya.

Minimal, lanjutnya, pemimpin Indonesia yang mempunyai atribut sangat dekat dengan tipe pemimpin ini.

“Siapa itu bapak ibu sekalian?” tanya Al-Hadar.

“Anies Baswedan,” sambut audiens dengan kompak.

“Ya, insya Allah Anies Baswedan,” tegas Al-Hadar.

Kendati demikian, jelas Al-Hadar, tentu dalam hal ini ia tidak mengatakan Anies Baswedan itu sempurna, karena ia tidak membandingkan dengan kesempurnaan. Tapi, membandingkan secara relatif dengan para elit politik yang lain, tokoh-tokoh lain, atau capres yang lain.

Dari sisi gagasannya, kemampuan menerjemahkan gagasan itu dalam narasi, sehingga dapat dipahami oleh pemerintah atau non pemerintah. Kemudian dia mampu menggerakkan sumber daya yang tersedia untuk mengeksekusi kebijakan atau program.

“Itu yang kita lihat jelas nampak sekali dalam diri seorang Anies Baswedan,” pungkasnya. (Poy/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here