Doa Saat Hadapi Cobaan Berat dan Rezeki Sulit

777

Muslim Obsession – Setiap manusia pasti bakal menghadapi cobaan. Seperti dua sisi mata uang, kehidupan dan cobaan akan selalu ada sepanjang hidup kepada orang beriman maupun tidak beriman.

Cobaan tidak hanya berupa kesusahan, kemiskinan, kelaparan, bangkrut, kecelakaan, tetapi ada juga cobaan atau musibah berupa kesenangan, kekayaan, dan lain sebagainya.

Karena mendapat cobaan merupakan keniscayaan, maka Islam memberikan arahan agar seseorang dapat menghadapinya dengan sabar dan kepasrahan kepada Allah Ta’ala. Terlebih saat mendapatkan cobaan berat, orang beriman dianjurkan untuk semakin dekat kepada Allah dan berdoa dengan cara yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Salah satunya adalah doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada putri tercintanya Fatimah Az-Zahra.

BACA JUGA: Saat Nabi Sulaiman Memilih Ilmu daripada Harta dan Kekuasaan

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda pada Fatimah (puterinya), “Apa yang menghalangimu untuk mendengar wasiatku atau yang kuingatkan padamu setiap pagi dan petang yaitu ucapkanlah:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan.

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya,” (HR. Ibnu As-Sunni, An-Nasa’i, Al-Bazzar, dan Al-Hakim).

Pada riwayat lain disebutkan, dari Anas bin Malik, ia berkata, “Nabi ﷺ ketika dapat masalah berat, beliau membaca:

يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ

Yaa Hayyu Yaa Qayyum, bi rahmatika as-taghiits.

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan,” (HR. Tirmidzi).

Pada dasarnya, cobaan akan menempa seseorang memiliki karakter kuat, tidak mudah menyerah. Cobaan bisa jadi merupakan bentuk cinta kasih Allah Ta’ala kepada hamba-Nya agar semakin matang karakternya dan terangkat derajatnya serta dihapuskan dosa-dosanya.

Namun, terkadang Allah Ta’ala memberikan cobaan kepada sebagian orang bukan karena rasa cinta dan pemuliaan dari-Nya kepada mereka. Sebaliknya dalam rangka menunda hukuman mereka alam dunia sehingga nanti pada akhirnya di akhirat mereka akan menyesal dengan tumpukan dosa yang sedemikian besar.

Jika seseorang menyadari jika dirinya mendapat cobaan akibat perbuatan dosa yang dilakukan dirinya, maka dia berkewajiban untuk segera beristighfar dan bertaubat kepada Allah Ta’ala.

Inilah sikap yang seyogianya dilakukan, yaitu saat ada ditimpa cobaan berupa musibah adalah bertaubat daripada dosa-dosa dan bersabar atasnya:

فَاصۡبِرۡ اِنَّ وَعۡدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّاسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِكَ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ بِالۡعَشِىِّ وَالۡاِبۡكَارِ

“Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampun untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi,” (QS. Ghafir: 55).

Maka ketika seseorang dililit rezeki yang sulit, baik soal harta, pekerjaan, keturunan atau lainnya, maka perbanyaklah Istighfar untuk memohon ampunan Allah Ta’ala. Karena sejatinya, Istighfar merupakan anak kunci yang dapat mengantarkan seseorang pada berbagai kebaikan.

Dikisahkan Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki dalam Ma Dza fi Sya‘ban, seorang ulama di era Tabi’in, Hasan Basri mendapat aduan dari jamaahnya.

Salah seorang di antaranya mengadu masalah paceklik yang mendera. Hasan Basri menganjurkan, ‘Mintalah ampun kepada Allah.’ Salah seorang jamaah lainnya datang dan menceritakan kemiskinan yang tengah dialaminya. Hasan Basri pun menyarankan, ‘Mintalah ampun kepada Allah’.

Lalu seorang lainnya datang lagi dan mengadu karena belum juga dikaruniai keturunan. Hasan Basri pun berkata, ‘Mintalah ampun kepada Allah’.

Tiga persoalan mendapatkan jawaban yang sama dan Hasan Basri. Rupanya, Istighfar memiliki keistimeaan sebagai pembuka jalan buntu dan pembebas dari kesulitan. Allah Ta’ala kemukakan hal tersebut pada QS. Nuh ayat 10-12:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (١٠) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (١١) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (١٢)

“Lalu aku berkata, ‘Mintalah ampun kepada Tuhanmu–Sungguh, Dia maha pengampun–niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat kepadamu, menolong kamu dengan harta benda dan anak-anak, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan menjadikan beberapa sungai,’” (QS. Nuh ayat 10-12).

Wallahu a’lam bish shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here