Diperingati Semarak, Nuzulul Quran Diikuti 1.500 Peserta Program Bogor Mengaji

171
Ribuan peserta program Bogor Mengaji mengikuti peringatan Nuzulul Quran di GOR Indor Pajajaran Kota Bogor, Selasa (19/4/2022). (Foto: ANTARA/Arif Firmansyah)

Bogor, Muslim Obsession – Nuzulul Quran diperingati secara semarak di Kota Bogor, Jawa Barat. Ribuan peserta memadati GOR Indor Pajajaran Bogor, Selasa (19/4/2022), dalam gelaran yang menjadi bagian dari program Bogor Mengaji.

Program pengentasan buta aksara Al-Quran ini serentak dilaksanakan di 68 kelurahan di 6 kecamatan se-Kota Bogor. Ada 1.500 peserta dalam kegiatan Bogor Mengaji yang diwisuda dengan dihadiri seluruh pimpinan muspida Kota Bogor.

Para peserta didampingi Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Bogor Dr. KH. Ade Sarmili yang juga merupakan inisiator program Bogor Mengaji.

Lelaki yang akrab disapa Kiai Ade ini menjelaskan, kegitan puncak Bogor Mengaji ini diisi dengan khotaman quran yang dibagi menjadi enam kelompok. Kegiatan juga diisi dengan pembacaan Ratib Al-Haddad dan mahallu qiyam, marhaba dan maulid Diba.

“Kami ingin mempersiapkan metode yang sama dalam mengajarkan baca Al-Quran melalui metode Tilawati kepada masyarakat dan generasi pemuda di Kota Bogor,” kata Kiai Ade Sarmili yang bersyukur karena program Bogor Mengaji mendapat dukungan penuh dari Pemkot dan seluruh elemen masyarakat di Kota Bogor.

Pada kesempatan itu, Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto mengatakan, program Bogor Mengaji dibentuk untuk memberantas buta aksara Al-Quran.

Menurut Bima Arya, awalnya program Ini diprioritaskan untuk masyarakat di atas usia 45 tahun, baik perempuan maupun laki-laki. Namun karena masyarakat menyambutnya dengan antusias, program Bogor Mengaji nantinya akan menyasar generasi muda.

“Dalam program ini nanti kita akan masuk bukan hanya orang tua atau lansia, tapi ke anak-anak muda juga,” ucapnya.

Bima Arya menegaskan, pihaknya mendukung penuh program Bogor Mengaji dan berharap akan ada komitmen anggaran untuk memperkuat program tersebut. “Mudah-mudahan ada komitmen anggaran yang akan dikuatkan nanti dengan dewan-dewan di sini, supaya ada angkatan kedua tahun depan,” katanya.

Ketika program ini dibuka, antusiasnya sangat terlihat, dimana 2.040 santri turut mendaftar. Namun angka tersebut mengalami penurunan hingga menjadi 1500 santri saat wisuda.

Penurunan angka tersebut, jelas Bima Arya, disebabkan karena keterbatasan pengajar dan biaya yang dibatasi. Menurutnya, jika para pengajar lebih banyak dan ditambah biayanya, maka akan lebih banyak lagi pesertanya.

“Para pengajar ini koordinasi dari Dewan Masjid Indonesia (DMI), banyaknya ustadz yang diberdayakan ini dari jaringan pesantren dan DMI,” jelasnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here