Dilaksanakan Tanpa Cacat, Imam Besar Masjid Istiqlal Puji MTQ VI Korpri

69
Prof Zudan Arif Fakrulloh dan Prof KH Nasaruddin Umar. (Ist)

Jakarta, Muslim Obsession – Ketua Dewan Pengawas MTQ Korpri Prof KH Nasaruddin Umar menilai penyelenggaraan MTQ VI Korpri Nasional di Padang, Sumatera Barat berlangsung sangat luar biasa.

Kiai Nasaruddin bahkan menilai kegiatan tersebut dilaksanakan sangat rapi dah tanpa cacat.

“Fantastik, hampir tidak punya cacat, pelaksanaannya pun sangat rapi. Keberhasilan MTQ Korpri di Sumbar dari segi kualitas dan kuantitas sama-sama luar biasa. Ini berkat kekompakan antara panitia pusat dengan panitia lokal,” puji Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta tersebut, Senin (14/11/2022).

Sebagai Ketua Dewan Pengawas, Prof Nasar menyatakan, rekrutmen Dewan Hakim pun berjalan sangat profesional.

“Saya berani mengatakan tidak walaupun teman dekat, kalau tidak memenuhi syarat: No. Ini saya tegaskan dari awal kita harus profesional. Kalau tidak, wibawa MTQ ini akan kurang,” tandas Kiai Nasaruddin.

sangat mengapresiasi usaha-usaha Ketum Korpri Nasional Prof. Zudan Arif Fakrulloh melobi berbagai pihak untuk menyukseskan MTQ ke-6 Korpri tingkat nasional ini.

“MTQ ini dananya sangat besar tanpa menggunakan dana Korpri. Dananya berasal dari partisipasi masyarakat dan swasta serta Pemprov Sumatera Barat. Jadi ini upaya yang luar biasa menggalang partisipasi masyarakat dalam menyukseskan acara nasional. Negara belum tentu bisa melakukan seperti ini,” kata pria yang pernah menjabat Dirjen Bimas Islam Kemenag ini.

Kendati demikian, lanjut Kiai Nasaruddin, ia mengaku dikomplain sejumlah kolega perguruan tinggi negeri dan pemerintah kabupaten/kota, yang menyayangkan mereka tidak diajak serta.

“Bayangkan kalau mereka terlibat semuanya, masya Allah, MTQ Korpri bisa menjadi MTQ terbesar di dunia dari segi jumlah pesertanya dengan masa penyelenggaraan terpanjang, bisa full satu bulan,” ungkap Prof. Nasaruddin.

Ia pun memuji dedikasi para dewan hakim yang bekerja penuh semangat, mulai pukul 7.30 pagi dan berakhir hingga malam hari.

“Dewan hakim ini bukan orang sembarang, mereka terdiri dari para profesor, yang satu kali ceramah bisa sama honornya dengan di sini. Tapi semua itu mereka tinggalkan tugasnya selama seminggu demi menyokong MTQ Korpri hingga terselenggara dengan baik. Itu luar biasa,” ungkap mantan Wakil Menteri Agama (2011-2014).

Dari sisi penilaian, kata Prof. Nasar, MTQ Korpri lebih canggih ketimbang MTQ Nasional, karena sudah menggunakan aplikasi penilaian digital.

“Ada pula yang ditampilkan di sini, tetapi tidak pernah ada di MTQ Nasional,” kata Kiai Nasar.

Contohnya, Di MTQ Nasional itu haram bawa handphone, tetapi di MTQ Korpri wajib bawa ponsel. “Itu karena penilaian peserta dilakukan secara digital. Jadi nyata kita ini lebih memudahkan, dan lebih eksakta sifatnya. Begitu selesai sudah ada hasil.”

Begitu juga di MTQ Korpri mempelopori lomba khath digital. “Makanya saya katakan, kita harus belajar pada MTQ Korpri,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here