Dewa Hubal, Kaum Musyrik, dan Ahlul Kitab

1812

Dari fakta di atas dapat disimpulkan bahwa ahlul kitab, baik Yahudi maupun Nashrani, di zaman Nabi terbagi dalam dua kelompok: Kelompok pertama bertauhid murni, kelompok kedua mengajarkan trinitas.

Menghadapi kenyataan itu, dengan sangat arif dan bijaksana Muhammad SAW tidak serta merta main pukul rata mengatakan semua ahlul kitab pasti kafir. Jika semua ahlul kitab sudah pasti kafir, berarti ketika hijrah ke Madinah, nabi berhijrah dari Makkah yang penuh orang kafir menuju Madinah yang juga penuh orang kafir.

Ketika nanti Madinah dikepung kaum kafir Makkah dalam Perang Ahzab di tahun 5 Hijriah atau 627 Masehi, Nabi memimpin pasukannya yang terdiri atas pasukan Muslim, Yahudi, Nashrani, juga Shabiin.

Jika Yahudi dan Nashrani sudah pasti kafir semua, peperangan ini berarti pertempuran antara pasukan kafir melawan pasukan kafir plus sedikit Muslim. Tidak. Perang Ahzab adalah pertempuran antara kaum kafir penyembah berhala melawan koalisi ahlul kitab. Catat baik-baik, biarpun jumlah pasukan koalisi ahlul kitab jauh lebih sedikit dibanding pasukan kafir Makkah, Allah berpihak pada koalisi ahlul kitab di Madinah.

Sekarang, masih bisakah kaum Yahudi dan Nashrani dianggap ahlul kitab? Bagaimana umat Islam menghadapi mereka di era modern saat ini? Tidak usah bingung menjawabnya, contoh saja akhlak Rasulullah SAW di Madinah. Lelaki agung ini hidup berdampingan dengan damai dengan Yahudi, Nashrani, juga Shabiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here