Dewa Hubal, Kaum Musyrik, dan Ahlul Kitab

1812

Kalau benar bangsa Arab saat itu menyembah Allah, Tuhan yang Satu, mengapa mereka punya ratusan berhala di Masjid Haram? Alasan mereka punya banyak patung diabadikan oleh Allah dalam Al-Quran surat Az-Zumar (39) ayat 3.  Semua berhala itu, kata orang Arab Makkah dalam ayat ini, sesungguhnya tidak mereka sembah, melainkan hanya sebagai sarana penghubung untuk mendekatkan diri pada Allah.

Maklum, Allah memang tidak pernah menampakkan Diri pada mereka dan karena itu mereka butuh perantara. Dengan demikian, selama ratusan tahun, bangsa Arab Makkah merasa bahwa diri mereka benar telah menjalankan tauhid sesuai ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihimassalam, tapi di sisi lain Allah lewat Nabi Muhammad SAW menegaskan mereka sebenarnya telah bersikap musyrik (menyekutukan Allah).

Di tengah kondisi bangsa Arab yang sangat yakin dengan berhala-berhala mereka, sejumlah besar penganut Yahudi, Nashrani juga Shabiin pelan-pelan datang ke jazirah Arab. Mereka menetap di Makkah, Yatsrib (nantinya bernama Madinah), atau distrik-distrik kecil lainnya di sekitar dua kota itu.

Al-Quran menyebut mereka ahlul-kitab karena kepada mereka diturunkan kitab-kitab langit, Taurat dan Injil, dan menyebut Arab Quraisy sebagai kaum ‘’musyrikun’’ atau ‘’kafirun’’. Para ahlul kitab ini juga menyampaikan ajaran agama masing-masing kepada bangsa Arab, baik diam-diam maupun terang-terangan, terutama ketika Festival Ukkaz digelar setahun sekali.

Hanya saja, ajaran ahlul kitab yang datang ke Makkah ini tidak mendapat tempat di hati bangsa Arab Makkah. Sekte-sekte Yahudi dan ordo-ordo Nashrani yang datang ke jazirah Arab ini kebanyakan mengajarkan trinitas bahwa Allah punya anak. Yahudi mengatakan Uzair anak Allah, Nashrani mengajarkan Isa atau Yesus anak Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here