Dari Pondok Pesantren Menuju IPB (1)

40

Oleh: Kafila Ila Sabililla (Mahasiswi Jurusan Meteorologi Terapan Semester 2)

Pengalaman baru dalam hidup, akan dihadapi oleh siapa pun. Termasuk juga dengan diriku. Penuh warna, lika-liku, dan suka cita. Setelah menikmati masa kecil dan kanak-kanak bersama keluarga, aku menjalani kehidupan baru selama enam tahun di Pondok Pesantren Daarul Rahman bersama teman-teman baruku.

Sebuah kehidupan penuh perjuangan dan pengorbanan. Hidup berpisah dengan keluarga, yang selama ini siang dan malam tidur makan bersama-sama. Hidup mandiri dan serba antri, meninggalkan kebiasaan yang selama ini serba dilayani. Hidup sibuk dengan beragam tugas dan kegiatan, dari yang selama ini, terbiasa santai dan banyak waktu luang.

Setelah selesai masa enam tahun di pondok pesantren, kini saya menjalani kehidupan baru lagi. Benar-benar baru. Di tempat baru, dengan teman-teman baru, dengan model kebiasaan baru, dan juga disiplin ilmu yang baru. Semoga, saya bisa terus menikmati dunia baru ini. Semoga saya sukses melewati semua tangga dan lika-liku kehidupan yang ada. Dengan penuh keindahan, kesuksesan, dan kebermanfaatan. Amin.

Ini sebenarnya merupakan pengalaman pribadi. Sengaja saya tuliskan di sini, berharap ada pelajaran dan motivasi yang bisa dipetik oleh para pembaca, khususnya teman-teman saya dan adik-adik saya para santri pondok pesantren yang punya cita-cita dan mimpi ingin kuliah di IPB atau di perguruan tinggi manapun yang ada di Indonesia, bahkan di dunia.

Saya ingin berbagi cerita tentang perjuangan menuntut ilmu. Cerita tentang suka cita belajar. Juga, mungkin untuk para orangtua yang menginginkan anaknya yang selama ini belajar di pondok pesantren agar bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi Umum, seperti IPB University, salah satunya. Semoga semua orangtua dan juga teman-temanku tidak ada yang menyerah dan putus asa.

Alhamdulillah, ungkapan syukur senantiasa saya panjatkan kepada Allah atas anugerah yang telah diberikan kepada saya berupa kesempatan untuk menimba ilmu di IPB, salah satu kampus terbaik di Indonesia, pada jurusan Meteorologi Terapan.

Sebagaimana dimuat pada Website kampus, dijelaskan bahwa jurusan ini merupakan bagian integral dari visi IPB menjadi perguruan tinggi berbasis riset kelas dunia dan kompetensi utama pertanian tropika dan biosains serta berkarakter kewirausahaan, pengembangan keilmuan dan kompetensi lulusan yang mempunyai kemampuan dalam melakukan observasi, analisis dan pemanfaatan data dan informasi, khususnya iklim/cuaca.

Kenyataan yang saya jalani saat ini, bermula dari tugas akhir berupa karya tulis yang saya susun sebagai syarat untuk bisa lulus dari pondok. Dengan judul Gerak Semu Harian dan Tahunan Matahari serta Perubahan Kenampakan Benda Langit. Pada mulanya saya merasa sangat berat, ragu, dan maju mundur untuk mengerjakannya, tetapi dengan bismillah, penuh tekad, dan kerja keras, akhirnya berhasil saya selesaikan.

Dan ternyata, gara-gara dari tugas karya tulis itulah kini membawa warna baru dalam kehidupan saya. Pasalnya, berkat judul karya tulis tersebut saya dipaksa, mau tidak mau harus baca buku-buku tentang meteorologi. Bahkan setelah saya lulus dari pondok pesantren, gara-gara saya pernah bersinggungan dengan tema meteorologi itu pula, ketika saya daftar kuliah dan ada jurusan meteorologi, saya pun merasa penasaran.

Rasa ingin tahu saya terhadap ilmu tersebut bertambah. Hingga akhirnya, atas masukan dan arahan orangtua, saya pun memutuskan untuk memilih jurusan tersebut. Dan kini, dari cerita saya di atas itulah, perjuangan menjalani status sebagai mahasiswa IPB jurusan meteorologi sedang saya jalani.

Kedua orangtua saya, yang keduanya adalah alumnus Perguruan Tinggi dengan jurusan keagamaan, sempat agak ragu terhadap jurusan yang saya pilih. Tetapi, akhirnya keduanya menyetujui dan mendukung pilihan saya, serta memberikan support penuh. Pesan yang tak pernah henti disampaikan untuk anaknya adalah, agar rajin beribadah, semangat belajar, bersabar menghadapi segala macam ujian, dan ikhlas menghadapi takdir apa pun yang ada.

Itulah kunci menghadapi perjuangan yang saya jalani hingga saat ini. Sebagai alumnus pondok pesantren, saya yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan segala jerih payah hamba-Nya. Saya juga yakin, barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Dan kata orang bijak, proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.

IPB merupakan pondok pesantren kedua saya.

Hal yang juga sangat saya syukuri adalah lingkungan kampus yang nyaman. Bukan hanya alamnya, akademiknya, tetapi juga spiritualnya. Lebih-lebih saya tinggal di asrama mahasiswa. Teman-teman baru yang welcome, alam yang rindang dan nyaman, sarana prasarana kampus yang sangat memadai, dan tentu kualitas pembelajaran yang tidak diragukan. Saya benar-benar merasa senang menjadi bagian dari keluarga IPB. Seolah saya sedang mondok di IPB.

Jaya terus untuk kampus dan pondokku.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here