Cerita Ketum PBNU Gus Yahya, Pernah Marah Besar Sama Gus Dur

360
Gus Yahya (Foto: NU online)

Jakarta, Muslim Obsession – Meski dikenal dekat dengan Presiden Keempat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, namun bukan berarti Ketum PBNU Gus Yahya Cholil Staquf tidak pernah marah.

Ia mengaku pernah sangat kesal atas keputusan politik Gus Dur yang dianggap tidak menguntungkan dirinya.

Kemarahan ini lantaran saat itu Gus Yahya merasa harusnya ia menjadi anggota DPR RI menggantikan Alwi Shihab.

Alwi Shihab menjadi anggota DPR dan harus meninggalkan jabatan tersebut karena ditunjuk Gus Dur jadi Menteri Luar Negeri saat periode kepemimpinan beliau tahun 1999-2001.

Karena kekosongan itu, posisi anggota DPR harusnya jadi ‘jatah’ dari Gus Yahya yang waktu itu menjabat posisi Wasekjen PKB, partai yang didirikan Gus Dur. Gus Yahya harusnya mengantikan Alwi Shihab.

“Saya berpikir saya akan jadi anggota DPR, sebab memang saya yag berhak menggantikan Pak Alwi. Rupanya, Gus Dur tidak mengizinkan,” kata Gus Yahya.

Pengakuan terbuka Gus Yahya itu termaktub dalam buku yang ia tulis bersama AS Laksana bertajuk Menghidupkan Gus Dur: Catatan Kenangan Yahya Cholil Staquf (2020).

Waktu itu, diakui Gus Yahya, ia marah dan tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Gus Dur dan merasa hak dia untuk jadi anggota DPR telah diberangus oleh sosok yang justru dicintainya itu.

“Saya marah karena merasa hak saya dilanggar. Saya wakil sekjen PKB, ikut membesarkan partai, tidak boleh jadi anggota DPR yang mestinya hak saya. Rusuh sekali pikiran saya waktu itu,” tuturnya.

Gus Yahya Memahami Keputusan Gus Dur

Gus Yahya sempat merasa terzalimi waktu itu. Pikirannya jadi tidak tenang dan merasa tidak jernih memikirkan berbagai persoalan yang ada waktu itu.

Namun ia mengaku, perasaan itu akhirnya perlahan mereda ketika Gus Yahya mengambil jarak dari situasi yang menganggu pikirannya itu sembari menerka apa maksud Gus Dur.

“Ketika akhirnya saya mengambil jarak dari kejadian itu, tiba-tiba saya berpikir: jika saya jadi anggota DPR, apa saya sanggup menjalaninya?” kata pengasuh Pesantren Sirajuth Thalibin, Rembang itu.

Gus Yahya pun akhirnya memroyeksikan keputusan Gus Dur tersebut, sambil merenung ia menafsirkan bahwa keputusan tersebut memang sudah benar. DPR bukanlah habitat yang cocok baginya.

“Pikiran itu membuat saya tenteram. Dan rupanya mendapatkan tempat yang jauh lebih baik, menjadi juru bicara presiden,” katanya.

Lewat posisi itu, ia bahagia bisa selalu berada di dekat gurunya tersebut dalam segala kondisi, termasuk posisi genting ketika ia dilengserkan DPR RI dari kursi presiden. (Albar)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here