Cegah Radikalisasi, Yenny Wahid Luncurkan Program Sekolah Damai

108

Jakarta, Muslim Obsession – Yenny Wahid selaku Direktur Wahid Foundation, secara resmi meluncurkan program Sekolah Damai bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada Senin, 24 Oktober 2022.

Program ini sudah dirintis sejak 2016 lalu, dan disebut sebagai upaya mencegah masuknya paham radikalisme di Sekolah dengan mengedepankan paham toleransi sejak usia dini.

Peluncuran program dilakukan oleh putri sulung Presiden Keempat RI, Abdurrahman Wahid itu bersama dengan Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, dan Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Steve Scott di SMA Negeri (SMAN) 4 Solo.

Program ini memiliki prinsip dasar yang kemudian diturunkan menjadi 3 pilar yang disebut Pilar Sekolah Damai berupa pilar kebijakan sekolah, pilar praktik toleransi dan perdamaian, serta pengelolaan organisasi kesiswaan. Ketiga rumusan pilar tersebut bertujuan untuk dapat menjadi pertimbangan dalam kebijakan di lembaga pendidikan ke depannya.

“Program Sekolah Damai ini sudah ada di 60 sekolah, lalu kita tingkatkan menjadi 70 sekolah. Jumlah itu sebagian besar di Jawa Tengah dan DKI Jakarta,” ucap Yenny Wahid pada Senin, 24 Oktober 2022 usai acara.

Yenny berharap program sekolah damai itu akan terus berlangsung dan berkelanjutan. Bahkan Ia berharap ke depan dapat dibuat sebuah peraturan bersama atau regulasi di tingkat sekolah yang terkait dengan program tersebut.

“Kami juga akan melakukan audiensi dengan Menteri Pendidikan, agar semua sekolah menjadi sekolah yang ramah kebhinekaan, sekolah bisa menjadi tempat di mana anak-anak tidak dibebani dengan sekat-sekat yang memisahkan mereka,” katanya lagi.

Yenny mengatakan anak-anak harus diberikan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri. Persoalan yang berkaitan dengan keyakinan dan lain sebagainya, menurut Yenny, tetap harus dikuatkan tanpa harus mendeskriminasi hak orang lain dalam menjalankan ajaran agamanya.

Disebutkan Yenny, beberapa kegiatan yang dilaksanakan dalam program sekolah damai itu di antaranya pelatihan-pelatihan, forum-forum, dan field trip, yang melibatkan berbagai unsur di sekolah, di antaranya guru agama dan siswa.

Melalui berbagai kegiatan itu, tujuannya adalah untuk penguatan kapasitas semua pihak yang terlibat baik guru, sekolah, siswa, dan organisasi-organisasi kemahasiswaan.

Yenny menilai penguatan kapasitas guru penting karena guru berperan sebagai pembimbing anak-anak di sekolah. Di sekolah, guru dapat menjadi tempat anak bertanya atau mencurahkan isi hati atau curhat.

“Dalam banyak kasus radikalisme dilakukan oleh anak-anak yang gelisah, cemas akan masa depan, merasa ada ketidakadilan pada dirinya, dizalimi, tidak punya teman curhat, tapi begitu curhat justru ke orang yang salah dan bisa diradikalisasi. Nah, untuk itu tentunya penting sekali bagi kita menyediakan tempat yang sesuai untuk mereka dalam hal ini guru yang berperan,” tuturnya. (Al)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here