Cegah Hipotiroidisme pada Anak, Parmusi Jateng Dirikan Pusat Pembelajaran Ozzonisasi Pertanian

913
Anding Sukiman (batik, tengah) bersama Prof. Dr. Ir. Muh. Nur (baju biru laut) dan Sutardi dari PT PIN (baju biru) di Kec. Ngablak, Kab. Magelang.

Oleh: Anding Sukiman (Ketua PW Parmusi Jawa Tengah)

Hipotiroidisme atau kekurangan hormon tiroid ternyata sangat berbahaya karena bisa mengganggu detak jantung, suhu tubuh, dan seluruh aspek metabolisme pada anak.

Suhartono dari Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro, yang pernah melakukan penelitian di Kabupaten Brebes mendapatkan tingginya prevalensi gondok (67,9%), hipotiroidisme (33,3%) dan gangguan pertumbuhan tulang (54,0%) pada siswa SD.

Dari penelitiannya itu juga ditemukan fakta bahwa prestasi belajar siswa dengan gondok lebih rendah dibanding siswa tanpa gondok; dan 57,1% siswa terdeteksi adanya metabolit pestisida dalam urin.

BACA JUGA: PW Parmusi Jateng Beri Modal Usaha untuk Petani Binaan Dai Parmusi Hingga Rp.10 Triliun

Suhartono menjelaskan, penggunaan pestisida di daerah pertanian mengancam kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa mendatang.

Oleh karenanya, imbuh Suhartono, diperlukan upaya pencegahan, antara lain dengan melakukan evaluasi kembali tentang peredaran/perdagangan maupun penggunaan pestisida khususnya di bidang pertanian.

Hasil penelitian yang dilakukan Suhartono itu sejalan dengan yang disampikan oleh Profesor Dr. Ir. Indah Prohartini, MP dari Universitas Muhammadiyah Malang yang pada waktu Workshop Hulu-Hilir Pertanian.

Pada kegiatan yang diselenggarakan PW Parmusi Jawa Tengah di hotel Sahid 18 Januari 2022 tersebut, Prof. Indah menyampaikan hasil penelitiannya yang menunjukan bahwa residu DDT (Dichloro-Diphenyl-Trichloroethane) masih ditemukan pada susu sapi. Padahal jelasnya, DDT tersebut sudah tidak pernah dipakai sekitar 40 tahun yang lalu.

BACA JUGA: Kembangkan Ekonomi Berbasis Masjid, Parmusi Jateng Gelar Workshop Hulu-Hilir Pertanian

Workshop yang juga menampilkan pembicara Prof. Dr. Ir. Muhammad Nur (Guru Besar Ilmu Fisika dari Undip) dan Dr. Ir. Agus Riyanto (Unsoed) itu menyimpulkan bahwa penggunaan pestisida kimia sangat berbahaya bagi kesehatan, dan perkembangan sumber daya manusia Indonesia ke depan.

Atas temuan-temuan itu, PW Parmusi Jawa Tengah mengimbau masyarakat petani Jawa Tengah agar meninggalkan bahan-bahan kimia untuk budi daya pertanian.

Terlebih lagi, menurut Prof. Indah sebenarnya di tengah-tengah masyarakat terdapat pupuk organik yang sangat banyak jika dimanfaatkan dengan baik.

Prof. Indah mencontohkan limbah pertanian berupa jerami yang mempunyai kandungan hara yang sangat dibutuhkan tanaman. Namun masalahnya, jerami itu dibawa ke kandang sapi untuk pakan, sedangkan kotoran sapi tidak dibawa ke sewah sebagai pupuk.

BACA JUGA: Guru Besar UMM Ingatkan Susu Sapi yang Dikonsumsi Sangat Mungkin Mengandung Residu DDT

Sementara itu Prof. Dr. Ir. Muhammad Nur tidak menampik kesimpulan yang disampaikn Prof. Indah Prihartini, karena juga telah mengadakan penelitian bertahun-tahun dan sebagai ilmuwan.

Sumbangsih yang bisa diberikan Prof. Nur adalah membuat Generator Ozzon yang sangat bermanfaat bagi usaha pertanian, khususnya hortikultura yang mudah rusak.

Generator Ozzon yang dibangun Prof. Muh. Nur sangat efektif untuk menghilangkan residu kimia yang sangat berbahaya itu, atau minimal 80% residu kimia yang menempel di kulit luar tanaman sayur-mayur dapat dihilangkan.

Di sisi lain, teknologi Ozzon ini juga bisa mengawetkan produk pertanian, seperti Pakcoy yang biasanya satu hari sudah layu, namun dengan semprot Ozzon dapat menahan Pakcoy bertahan tetap segar sampai 7 hari. Bahkan untuk Cabai bisa sampai 2 bulan.

BACA JUGA: Residu Kimia pada Produk Pertanian Jadi Penyebab Stunting Anak Indonesia

Sadar betapa pentingnya kesehatan demi masa depan anak-anak Indonesia, PW Parmusi Jawa Tengah terus menerus melakukan konsolidasi untuk membangkitkan ekonomi petani yang umumnya adalah muslim di perdesaan.

Langkah pertama yang dilakukan PW Parmusi Jawa Tengah adalah melakukan kerja sama dengan PT PIN (Pasar Induk Nusantara) dan Prof. Dr. Ir. Muhammad Nur dengan membangun pusat pembelajaran pertanian sehat di Kecamatan Ngablak Kab. Magelang.

Dari pusat pembelajaran ini nanti akan dipasang Generator Ozzon. Nantinya para petani muslim di Ngablak akan menjual produk-produk sayuran dari lahan-lahan mereka ke pusat pembelajaran yang berfungsi sebagai toko sayuran sehat. Selebihnya produk-sayuran sehat ini akan di pasarkan di Jawa Tengah dan DIY. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here