Cara Cek Arah Kiblat Saat Matahari Tepat di Atas Ka’bah

100
Ka'bah lengang di tengah isu Covid-19.

Jakarta, Muslim Obsession — Fenomena Matahari yang berada tepat di atas Ka’bah bakal terjadi pada Sabtu (28/5). Waktu ini bisa menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk kembali mengatur arah kiblat.

Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andi Pangerang mengatakan dalam ilmu falak ini disebut Kulminasi Agung atau Rashdul Qiblah yang bermakna meluruskan kiblat.

Dapat diartikan, saat Matahari tepat berada di atas Ka’bah, bayangan benda yang terbentuk akan mengarah ke arahnya.

Dalam ilmu astronomis, fenomena ini terjadi ketika deklinasi Matahari bernilai sama atau kecil selisihnya dengan lintang geografis Ka’bah.

Deklinasi itu, jelas Andi, terjadi lantaran sumbu rotasi Bumi mempunyai kemiringan 66 derajat terhadap bidang edar Bumi sehingga mengalami pergerakan semu tahunan yang bervariasi antara -23°26′ hingga +23°26′ terhadap khatulistiwa.

Andi menyebut kalibrasi arah kiblat dengan memanfaatkan fenomena Matahari di atas Ka’bah. Bahkan, hasilnya dianggap lebih akurat dibanding menggunakan kompas.

“Kompas dipengaruhi oleh medan magnet alami maupun buatan sehingga dapat mempengaruhi keakuratan pengukuran,” kata dia.

Andi menyebut ada dua waktu yang tepat untuk membenarkan arah kiblat. Itu disesuaikan dengan wilayah masing-masing.

Dari perhitungan di Stellarium PC ver0.22 yang dilakukan Andi, Matahari akan mencapai nilai deklinasi +21°25′20,91″ pada 28 Mei 2022 pukul 03.12.58 Waktu Saudi (07.12.58 WIB) dan 15 Juli 2022 pukul 23.01.42 Waktu Saudi (16 Juli pukul 03.01.42 WIB).

Namun, Matahari masih di bawah ufuk sehingga tengah hari yang terdekat adalah pada 28 Mei 2022 pukul 12.17.59 Waktu Saudi (16.17.59 WIB / 17.17.59 WITA /18.17.59 WIT) dan 15 Mei 2022 pukul 12.26.42 Waktu Saudi (16.26.42 WIB / 17.26.42 WITA / 18.26.42 WIT).

Kalibrasi kiblat menggunakan fenomena Matahari di atas Ka’bah ini, dijelaskan Andi, tidak bisa dilakukan di semua wilayah Indonesia.

Tercatat ada sembilan wilayah yang tidak bisa atur arah kiblat pada 28 Mei, yakni Sebagian Provinsi Maluku mulai dari Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagian Timur, Kabupaten Maluku Tenggara Barat (kini Kabupaten Kepulauan Tanimbar), Kabupaten Maluku Tenggara (kini Kabupaten Kepulauan Kei), Kota Tual, Kabupaten Maluku Barat Daya (minus Pulau Wetar) dan Kabupaten Kepulauan Aru. Kemudian juga Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua.

Masyarakat yang berada wilayah di atas dapat meluruskan arah kiblat ketika Matahari berada di titik balik atau Nadir Ka’bah yakni pada 29 November pukul 0.09 Waktu Saudi atau 6.09 Waktu Indonesia Timur, serta 14 Januari pukul 0.30 Waktu Saudi atau 6.30 Waktu Indonesia Timur.

Berikut cara atur ulang posisi kiblat saat fenomena Matahari di atas Ka’bah:

1. Tentukan tempat yang akan diatur arah kiblatnya, cari lokasi yang rata dan terkena cahaya Matahari

2. Sediakan tongkat atau benda tegak tidak berongga seperti spidol, botol plastik, botol minum atau bisa juga menggunakan benang berbandul

3. Siapkan jam yang sudah dikalibrasi sesuai rujukan BMKG di tautan ini.

4. Tancapkan tongkat di atas permukaan tanah, dan pastikan tongkat berdiri lurus 90 derajat, atau gantungkan benang berbandul di posisi yang rata

5. Tunggu hingga waktu Kulminasi Agung Tiba, kemudian amati bayangan tongkat atau benang pada saat fenomena berlangsung

6. Jika momentumnya sudah pas, tariklah garis lurus dengan pusat bayangan. Garis lurus yang menghadap dari ujung ke pusat bayangan merupakan arah kiblat di tempat tersebut. (Al)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here