Cara Agar Mudah Bersyukur Menurut Imam Al Ghazali

85
Ilustrasi.

Jakarta, Muslim Obsession – Imam Al-Ghazali menyatakan, syukur tingkatnya lebih tinggi dari takwa, karena dengan bersyukur artinya dia ridho dengan apapun keputusan atau ketetapan Allah SWT. Meski dipandang sepele, namun nyatanya untuk bersyukur itu tidak mudah.

Imam Al-Ghazali setidaknya membedakan orang yang lalai bersyukur (kufur nikmat) menjadi dua. Pertama, orang yang hatinya awas (al-qulubul bashirah). Kedua, orang yang batinnya buta-tumpul dan keras-membeku (al-qulubul balidah al-jamidah).

أما القلوب البصيرة فعلاجها التأمل فيما رمزنا إليه من أصناف نعم الله تعالى العامة وأما القلوب البليدة التى لا تعد النعمة نعمة إلا إذا خصتها أو شعرت بالبلاء معها فسبيله أن ينظر أبدا إلى من دونه

Artinya, “Obat bagi batin yang awas adalah merenungkan berbagai jenis nikmat Allah yang bersifat umum sebagaimana kami tunjukkan. Sedangkan obat/jalan bagi orang yang batinnya tumpul keras membeku yang hanya memandang nikmat secara khusus atau memandang nikmat setelah merasakn bala adalah memperhatikan selamanya kepada orang yang bernasib di bawahnya (dalam urusan dunia),” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Kairo, Darus Syi’bi: tanpa tahun], juz XII, halaman 2280).

Jalan yang disarankan Imam Al-Ghazali:

1. Orang yang batinnya sudah terang tetapi lalai bersyukur perlu melatih diri untuk menyadari nikmat-nikmat keseharian yang bersifat umum.

2. Orang yang hatinya tumpul dan beku perlu mendidik dirinya untuk selalu melihat ke bawah dalam urusan duniawi agar ia menjadi orang yang bersyukur atas kondisinya saat ini.

Ghazali menyebutkan sejumlah cara yang dilakukan para sufi untuk mengingatkan diri agar dapat mensyukuri kesempatan hidup, kesehatan, dan nikmat petunjuk di dalam ketaatan pada aturan.

Sebagian sufi sering menjenguk orang-orang sakit. Hal ini dilakukan agar mereka menyadari nikmat kesehatan yang sedang Allah berikan kepada mereka.

Mereka juga mengunjungi lokasi eksekusi atas kejahatan-kejahatan pidana agar mereka sadar bahwa mereka selama ini mendapat bimbingan Allah sehingga tidak melakukan kriminal.

Sebagian sufi malah melakukan simulasi kematian untuk mengingatkan mereka pada nikmat kesempatan hidup. Mereka menggali lubang seolah makam. Lalu mereka masuk ke dalam liang lahat yang mereka buat dan menghayati kematian tersebut (di mana mereka tidak dapat kembali ke dunia setelah masuk kea lam kubur) agar mereka dapat merasakan dan menyadari nikmat kesempatan hidup.

Semua itu dilakukan agar mereka dapat mensyukuri nikmat kesempatan hidup, nikmat kesehatan, dan nikmat petunjuk dari Allah agar senantiasa dalam kebaikan dan ketaatan. (Al)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here