Calon Kuat Ketum PBNU, Berikut Profil KH Yahya Cholil Staquf

245
KH. Yahya Cholil Staquf

Jakarta, Muslim Obsession – Penjaringan bakal calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Muktamar ke-34 NU melalui mekanisme voting menghasilkan nama Said Aqil Siroj dan Yahya Cholil Staquf memenuhi syarat sebagai Calon Ketum PBNU 2021-2026.

Gus Yahya berhasil mendapatkan perolehan suara dari kandidat lain, KH Said Aqil Siroj dengan jumlah suara yakni mencapai 327 suara. Sedangkan Kiai Said mendapat 203 suara, serta As’ad Ali 17 suara.
 
Hal ini terlihat dari Sidang Pleno III & IV Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama yang diadakan sejak Kamis, 23 Desember 2021 hingga, Jumat 24 Desember 2021 di Lampung.

 

Gagasan Gus Yahya, Transformasi NU
Gus Yahya menjadikan gagasan transformasi NU dengan konsep rahmah sebagai jawaban krisis yang melanda global saat ini.

Itulah salah satu titik gagasan yang ditawarkannya di Muktamar NU ke-34 Lampung dan akhirnya membuat dia terpilih jadi ketua umum PBNU.

Selain itu, ia mengatakan, ingin menyatukan gagasan gerak bersama seluruh komponen NU karena kekuatannya begitu besar untuk umat, dan tentu saja bagi Indonesia.

Mantan Jubir Presiden Keempat Gus Dur itu lantas mendapat dukungan dari banyak ulama, kiai dan cabang NU dan sejarah membuktikan, ia jadi ketua PBNU.

Gus Yahya mengatakan, transformasi dalam tubuh organisasi NU bisa jadi dalam kurun waktu satu periode masa jabatan. Artinya, dalam lima tahun, ia akan bekerja keras dan mendayagunakan seluruh potensi di NU untuk senantiasa gerak bersama dan inheren untuk umat.

“Insya Allah. Hitungan di atas kertas bisa melakukan transformasi organisasi selama 5 tahun komitmen kepemimpinan. Saya bandingkan dengan dulu cara saya menjalankan strategi transformasi untuk GP Ansor itu 3,5 tahun sudah panen,” katanya dalam dalam tayangan wawancara bersama KOMPAS TV, Jumat pagi (24/12).

Gagasan ini diterima oleh para pemilik suara di Muktamar dan memilihnya sebagai nahkoda baru organisasi yang berdiri sejak 1926 itu.

Gus Yahya Lahir dari Rahim Pesantren. Ia  lahir pada tahun 16 Februari 1966, dan merupakan tokoh Nahdlatul Ulama dari kota Rembang, Jawa Timur.

Gus Yahya adalah santri tulen, ia mengasuh pondok pesantren Raudlatul Thalibin, Leteh, Rembang. Singkatnya, Gus Yahya adalah sosok yang lahir dari Pesantren.

Gus Yahya sedari kecil belajar di Pesantren, bermula dari Pendidikan formal di Pesantren Raudlatut Tholibin Rembang, Jawa Tengah. Lalu berlanjut ke Pondok Pesantren KH Ali Maksum di Krapyak, Yogyakarta. Saat itu ia juga kuliah di Fisipol Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Panggilan ‘Gus’ setelah namanya sendiri adalah panggilan khas dari Pesantren, panggilan untuk memanggil nama anak seorang kiai atau pengasuh pesantren.

Berdasarkan silsilah keluarga, Gus Yahya tumbuh di lingkungan yang lengket dengan organisasi NU. Ayahnya adalah tokoh NU yang disegani bernama KH Cholil Bisri. Bersama Gus Dur, KH Cholil Bisri adalah pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Gus Yahya juga keponakan dari ulama Kharismatis dari NU, KH Mustofa Bisri, atau biasa disapa Gus Mus. Sedangkan adiknya, Yaqut C. Qoumas adalah Menteri Agama yang baru dilantik Jokowi menggantikan Fachrul Rozi.

Saat Gus Dur menjadi presiden keempat, Gus Yahya diberi amanah sebagai Juru Bicara Presiden (Jubir).

Sosok yang terkenal juga lewat tulisan dan cerita-cerita lucu bertajuk Terong Gosong ini pada 2018-2019 diberi amanah sebagai Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) menggantikan KH Hasyim Muzadi yang wafat.

Kini, ia bukan lagi sekadar santri, melainkan pemimpin organisasi islam terbesar di dunia. Seoarang yang lahir dari rahim pesantren dan berjuang untuk membuat NU kian maju. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here