Buya Syafii Maarif dalam Kenangan

115

Muslim Obsession – Tokoh besar dari kalangan Islam itu telah berpulang. Pasca wafatnya Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), berpulangnya Prof Ahmad Syafii Maarif atau yang biasa dipanggil Buya Syafii, telah membuat kita kembali kehilangan cendekiawan besar penuh dedikasi.

Cak Nur, Gus Dur, dan Buya Syafii adalah para inteligensia dan guru bangsa yang tangguh dengan segenap pengabdian dan kebesarannya.

Profesor Azyumardi Azra melalui pesan whatsAppnya menyampaikan:

“Wafatnya Buya Syafii Maarif pada Jumat 27/5/22 ini adalah kehilangan besar bagi Indonesia. Buya Syafii pecinta Indonesia yang sangat bersemangat dengan Pancasila, NKRI yang bhinneka. Buya Syafii juga penganjur Islam damai, menolak tegas kekerasan atas nama Islam. Tak kurang pentingnya Buya Syafii menjaga Muhammadiyah dari godaan politik kekuasaan; sebaliknya meneguhkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan.”

Saya pertama kali bertemu Buya Syafii di Yogyakarta ketika diajak Bang Din Syamsuddin dan Bang Azyumardi Azra mengikuti Muktamar Muhammadiyah kurun 1990-an. Sebagai anak pergerakan dan wartawan muda, untuk pertama kali saya melihat bagaimana sosok Buya Syafii yang cerdas dan bernas pemikirannya, mampu menjelaskan dinamika dalam Muktamar Muhammadiyah tersebut secara ringkas dan jernih. Artikulasinya tenang dan mengalir.

Muhammadiyah tetap solid dan bergerak maju ke depan dengan visi-misi kebangsaan yang kuat, menjadi teladan civil Islam yang membanggakan .

Kemudian pada waktu WS Rendra (Mas Willy), budayawan besar itu berpulang ke Sang Khalik, saya bertemu Buya Syafii di jalan hendak melayat ke Mas Willy yang disemayamkan di Cipayung Depok, namun tidak tahu tempat yang dituju. Saya mengantar beliau sampai ke hadapan jenasah Rendra. Setelah beliau mendoakan Mas Willy, maka saya berpamitan untuk kembali pulang ke kampus Paramadina karena ada tugas penelitian. Berbagai pertemuan selanjutnya, meski tidak lama waktunya, makin menorehkan kesan atas beliau yang mendalam bagi saya.

Kita tahu bahwa Buya Syafii untuk waktu yang lama, menempuh studi dan hidup di lingkungan masyarakat Jawa di Yogyakarta, sehingga beliau makin paham nilai-nilai dan budaya Jawa. Tutur katanya yang santun, bahkan sering lembut, membuatnya tidak lagi menjadi sosok Minangkabau yang artikulatif keras, melainkan menjadi ulama dan cendekiawan yang teduh, sahaja dan mawas diri ketika harus mengkritik elite kuasa dari Jawa.

Berbagai kalangan mengungkapkan bahwa pada mulanya Buya Syafii adalah seorang tokoh Muhammadiyah fundamentalis-puritan, namun dengan pendidikan dan pergaulan intelektualnya, dia berubah menjadi tokoh kebangsaan yang visioner, pluralis kritis dan multikulturalis, sehingga menghantarkannya menjadi ikon lintas agama dan guru bangsa pada abad ini.

Buya Syafii sangat perduli pada keadilan sosial, kesetaraan dan kemanusiaan. Buya menolak kekerasan dan keserakahan. Dalam esainya “Mentereng di Luar, Remuk di Dalam (Kompas 10 Nov.2021)”, yang saya baca, Buya Syafii memperingatkan para pejabat publik yang menyimpang, menyeleweng dan tidak amanah, penuh kemunafikan.

Kata Buya Syafii: “Panorama “rancak di labuah” atau “mentereng di luar, remuk di dalam” adalah penyakit sosial kronis yang menipu kita selama ini. Sumpah jabatan para birokrat pejabat publik tidak ada pengaruhnya pada perilaku mereka.”

Buya Syafii mencatat temuan temuan tim staf khusus bidang ekonomi tentang betapa kejamnya permainan konglomerat predator itu. “Untuk beras/padi terjadi di beberapa wilayah Jawa Timur, seperti Lamongan, Bojonegoro; di Jawa Tengah, terjadi di Kendal, Pemalang, dan beberapa kabupaten lainnya.”

Buya menambahkan bahwa cengkeraman konglomerat predator itu “mematikan penggilingan-penggilingan kecil yang memiliki modal terbatas. Untuk jagung, juga sudah merambah ke sentra-sentra produksi jagung di Sumbawa, Jawa Timur, Jawa Tengah. Salah satu implikasinya adalah peternak ayam petelur susah mendapatkan jagung, terutama saat bukan panen.”

Menurut Buya Syafii, semua itu baru sebuah contoh kecil tentang bagaimana niat baik Presiden itu dipermainkan pada tingkat akar rumput. Menurut Buya Syafii, contoh-contoh semacam ini bisa ditemui hampir di semua lini jaringan birokrasi negara yang sering menjadi perpanjangan tangan konglomerat.

Begitu jelas bahwa apa yang digembor-gemborkan sebagai reformasi birokrasi berjalan sangat lamban, berhadapan dengan mentalitas birokrat yang sudah puluhan tahun karatan.

Buya, Islam, dan Barat

Nirwansyah, aktivis IMM Ciputat mencatat bahwa perubahan paradigma tersebut terjadi saat beliau belajar langsung dengan tokoh neo-modernis asal Pakistan, Fazlur Rahman, di Universitas Chicago.

Sebelum bertemu dan belajar langsung dengan Prof Fazlur Rahman, Buya Syafii pernah menjadi seorang pendukung nalar ide negara Islam atau “syari’ah centris” agar bisa diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sekembalinya dari Chicago, AS, harus kita akui Buya Syafii memiliki perspektif yang tajam dan cermat dalam kaitan pembaharuan Islam, aksi Islam dan peran Islam ke depan, juga posisi dan citra Islam di mata internasional.

Dalam pandangan saya, argumentasi dan artikulasi Buya Syafii mengenai Islam dan Barat, juga mengenai kiprah Islam di mata dunia pasca tragedi Bom WTC 11/9/2001, sangat memberikan pencerahan pada kaum Muslim bagaimana harus menyikapinya secara wajar dan cerdas.

Buya Syafii memahami sekali bagaimana masyarakat Barat dan media Internasional Barat melakukan covering Islam dengan cara mereka sendiri dalam melakukan framing, pembingkaian, namun kita tidak perlu bereaksi berlebihan terhadapnya.

Menurut Buya Syafii, di Barat salah paham atas Islam banyak terjadi, namun respon Muslim tak perlu reaksioner dan berlebihan. Dengam moderasi dan keterbukaan Muslim dalam dialog dan pergaulan sosial di tingkat lokal, regional dan internasional, maka saling pengertian akan tumbuh secara gradual, alamiah di tengah dunia yang makin padat manusia dan sarat gesekan kepentingan, kemajemukan dan perbedaan.

Meski media Barat seperti Washington Post, New York Times, BBC London,The New York Book Review, dan CNN dll sering memberitakan gerakan Islam sebagai fundamentalisme Islam secara negative, hendaknya hal itu harus dibaca dengan sikap cerdas, hati hati dan kepala dingin agar kita tidak menjadi reaksioner.

Meminjam perspektif Olivier Roy (The Failure of Political Islam, 1994) yang suka menyebut gerakan Islam yang disebutnya sebagai Islamisme radikal atau fundamentalis-radikal, hal itu tak terlepas dari fakta bahwa secara empirik memang berbagai aksi kekerasan telah dilancarkan umat Islam, terutama di Timur Tengah; Iran, Sudan, Irak, Lebanon, Somalia, Afghanistan, Libya, dan lain sebagainya. Olivier Roy kadang menyebutnya neo-fundamental-isme Islam, yang secara ideologi bersifat kon-servatif, tetapi secara politik bersifat radikal, anti-Barat dan menginginkan terbentuknya negara Islam.

Belajar dari cara Buya Syafii membaca relasi Islam dan Barat, maka kita juga hendaknya memahami mengapa kemudian Edward W. Said (Covering Islam,1998) menyingkapkan tentang insiden kekacauan yang dilakukan umat Islam, yang telah membuat Barat melakukan stigmatisasi atas Islam.

Insiden itu menurut kajian AE Priyono dan Khamami Zada, adalah: Pertama, sejak 1983 di Lebanon, sekitar 240 marinir Amerika Serikat gugur dalam sebuah ledakan bom yang diduga dilakukan oleh kelompok Islam radikal dan aksi peledakan bom bunuh diri oleh seorang Muslim di Kedutaan BesarAmerika Serikat di Beirut.

Kedua, Tahun 1980-an, sejumlah warga negara Amerika disandera oleh kelompok Syi’ah di Lebanon dan ditawan dalamjangka waktu yang lama.

Ketiga, Pembajakan penerbangan TWA di Beirut 14-30 Juni 1985 dan beberapa kekejaman bom di Prancis yang kira-kira terja-di bersamaan.

Keempat, Peledakan penerbangan Pan Am nomor 109 di atas Lockerbie, Skotlandia (1988). Kelima, Aksi pemboman World Trade Center (WTC) tahun 1993, yang diyakini dilakukan oleh Syekh Omar Abdul Rahman.

Keenam, Fatwa Imam Khomeini terhadap Salman Rushdi (14 Pebruari 1989) dan iming-iming hadiah Miliaran dolar bagi pembunuhnya. Juga aksi bom bunuh diri warga Palestina terhadap pemukiman Yahudi-Israel serta penyanderaan warga Barat di Mindanao, Philipina yang dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf.

Ketujuh Pembunuhan pejabat pemerintah, intelektual, dan jurnalis di Mesir dan Algeria; penyanderaan, pembajakan penyerangan kepada Kristen Koptik dan para turis di Mesir oleh Jamaah al-Islamiyyah. Aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam, seperti Hizbullah, Jihad, dan Jundullah membuat image Islam sebagai agama yang irasional, fanatik dan gemar melakukan kekerasan. ( John L. Esposito, Political Islam, Revolution, Radicalism, or Reform, 1997).

Namun semua itu harus kita simak dan kita pahami dengan kepala dingin dan sikap cerdas sebagai suatu realitas yang tak perlu membuat kita lantas menjadi garang, kecewa dan marah membabi buta.

Hendaknya kita pahami mengapa Barat, pasca serangan teroris terhadap WTC 11 September 2001, menjadikan masyarakat dan sebagian inteleklualnya sangat yakin bahwa Islam adalah agama radikal yang menebar kekerasan. Meski faktanya tidak demikian.

Tampilnya Cak Nur, Gus Dur dan Buya Syafii di panggung internasional dalam menjelaskan hal ihwal Islam, telah membuka mata hati Barat bahwa Islam tidak seperti yang dibayangkan masyarakat Barat. Islam yang hanif, toleran, lapang, rahmatan lil alamin, penuh damai dan kasih sayang, bisa dilihat dan dihayati di berbagai belahan dunia, terutama di Asia Tenggara. Cak Nur, Gus Dur dan Buya Syafii adalah representasi Islam Indonesia/ Asia Tenggara yang otentik dan itu membuka mata hati Barat bahwa Islam sungguh agama yang toleran.

Meminjam perspektif Buya Syafii, Islam adalah agama kontekstual, yang sesuai dengan perubahan zaman, namun harus kita akui masih kesulitan untuk beradaptasi terhadap per-ubahan dunia yang begitu cepat, sementara respons Islam secara umum sangat terlambat dan ketinggalan dibandingkan dengan masyarakat Barat-sekuler. Tak heran, jika konsep-konsep modern, seperti sekular-isasi, demokrasi, dan HAM sebagai produk Barat, masih ditolak sebagian kaum Muslim secara radikal. Proses radikalisasi ini disebabkan oleh doktrin agama yang dipahami secara literal dan kaku, sehingga sulit menemukan relevansinya dengan dunia modern.

Sebagaimana Cak Nur dan Gus Dur, Buya Syafii telah mengajarkan pada kita bagaimana musti menyikapi kompleksitas kehidupan dalam konteks relasi Islam dan Barat, Islam dan Non-Islam demi kebajikan dan kemaslahatan bersama, bersikap lapang tanpa kebencian.

Dalam kaitan Islam dan Negara, bagi Buya Syafii Maarif hubungan Islam dan negara adalah hubungan yang simbiotis atau saling membutuhkan satu sama lainnya. Agama (Islam) membutuhkan negara, sedangkan negara membutuhkan agama (Islam). Buya Syafii memandang pola hubungan negara dan agama bukan hanya pola hubungan dikotomis yang saling meniadakan.

Buya Syafii menekankan, Islam bukan semata-mata ritual peribadatan hamba kepada Tuhannya, melainkan Islam juga mengatur kaidah-kaidah dan batas-batas dalam muamalah dan bersosial dalam masyarakat. Karena itu, harus ada negara atau kekuasaan politik yang melindungi dan menjaga aturan-aturan itu.

Wawasan kekuasaan dalam Islam haruslah disinari dengan wawasan moral. Sejarah telah menunjukkan, kekuasaan Islam dalam berbagai zaman di berbagai negara seringkali mengkhianati cita-cita politik Islam itu sendiri.( Pemikiran Politik Negara dan Agama Ahmad Syafii Maarif , Jurnal Politik Muda, 2012) Buya Syafii menyerukan pentingnya negara dalam Islam, tetapi dia menolak pandangan yang mengatakan Islam adalah daulah dan din.

Baginya, Islam bukan hanya cita-cita moral dan nasehat-nasehat agama yang bisa lepas begitu saja. Tetapi, Islam memerlukan sarana untuk mewujudkan cita-cita moralnya yang meliputi seluruh dimensi kehidupan manusia. Wallahualam bisawab.

Selamat jalan Buya Syafii,husnul khotimah. Amin.

Penulis adalah akademisi Universitas Paramadina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here