Bolehkah Bayar Utang Puasa dengan Cara Dicicil?

240
Ilustrasi Puasa (Foto: Islam Kafah)

Bolehkah menyaur puasa (mengqadha) dengan menyicil? Misalnya, utang puasa 10 hari, bolehkah dicicil pada hari Kamis dan Senin tiap Minggu, ataukah harus berturut-turut 10 hari selesai seperti pada bulan Ramadhan?

Dalam QS. Al Baqarah ayat 184 disebutkan “Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.

Dikutip dari laman muhammadiyah.or.id., Senin (9/5/2022) dalam Fatwa Tarjih yang terdapat di buku Tanya Jawab Agama jilid II disebutkan bahwa QS. Al Baqarah ayat 184 di atas tidak disebutkan harus berturut-turut, sebagaimana kewajiban membayar kaffarah puasa dua bulan yang disebutkan “mutatabiat” atau berturut-turut.

Karena itu menyaur puasa yang ditinggalkan karena sakit atau karena bepergian dapat ditunaikan dengan bilangan puasa yang sama di hari selain Ramadhan, tanpa harus berturut-turut. Artinya, boleh menyaur puasa secara terpisah-pisah.

Wallahu A’lam bish Shawab..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here