Biografi Imam Ahmad bin Hambal, Pendiri Mazhab Hambali

95

Jakarta, Muslim Obsession – Imam Ahmad bin Hanbal, adalah salah satu dari empat imam mazhab rujukan umat Islam yang namanya sudah tersohor di penjuru dunia. Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Asy-Syaibani seorang ulama fiqh mashur.

Imam Ahmad bin Hanbal dilahirkan di Kota Baghdad pada bulan Rabiul Awwal tahun 164H (780M), ketika masa pemerintahan Islam dipegang oleh Khalifah Muhammad al Mahdi dari Bani ‘Abbasiyyah ke-3.

Bila diselidiki dengan cermat, nasab Imam Ahmad sama dengan Imam Asy-Syafi’i, yakni bersambung dengan kakek yang menurunkan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wassallam. Jika Imam Asy-Syafi’i bersambung dengan kakek Nabi yang ketiga yakni ‘Abdul Manaf.

Baca juga: Biografi Ulama Besar Imam Syafi’i, Pendiri Mazhab Syafi’i

Sedangkan silsilah Imam Ahmad bersambung dengan kakek yang ke-18 yakni Nizar. Jelasnya, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asas bin Idris bin ‘Abdullah bin Hajyan bin ‘Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzahal Tsa’labah bin Akabah bin Sha’ab bin ‘Ali bin Bakar bin Muhammad bin Wa`il bin Qashit bin Afshiy bin Damiy bin Jadhah bin Asad bin Rabi’ah bin Nizar bin Ma’an bin Adnan.

Berdasarkan silsilah nasab tersebut –sebagaimana dikemukakan oleh ahli sejarah, maka nasab Imam Ahmad serumpun dengan Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wassallam, karena yang menurunkan Nabi adalah Mudhar bin Nizar.

Menurut catatan tarikh, kendati ayah beliau bernama Muhammad, namun beliau lebih dikenal dengan Ibnu Hanbal (nisbat kepada kakeknya). Setelah mempunyai beberapa putra yang di antaranya bernama ‘Abdullaah, maka beliau pun lebih sering dipanggil dengan sebutan Abu ‘Abdillah.

Akan tetapi berkenaan dengan madzhabnya, maka kaum Muslimin saat itu lebih menyebutnya sebagai Mazhab Hanbali, dan sama sekali tidak menisbatkan dengan kunyah tersebut.

Pertumbuhan dan Semangat Keilmuan

Sejak kecil Imam Ahmad dalam keadaan yatim dan miskin, namun berkat bimbingan ibunya yang shalihah, beliau mampu menjadi manusia yang teramat cinta kepada ilmu, kebaikan, dan kebenaran.

Dalam usianya yang masih dini yakni 16 tahun, setelah menamatkan pendidikannya di Kota Baghdad, beliau berangkat ke Kufah, Bashrah, Syam, Yaman, Jazirah, Makkah, dan Madinah. Perjalanan yang jauh dan cukup melelahkan ini, tidak ada bekal bagi Imam Ahmad, selain dari semangat, keprihatinan dan doa ibunya.

Dikabarkan, demi untuk membiayai perjalanan keilmuan teresebut beliau sampai menyewakan pusaka ayahnya, yakni sebuah rumah dan baju sulam. Demikian pula dalam suatu riwayat, ketika beliau kehabisan bekal di tengah perjalanan saat menuju Kota Shan’a (Yaman), maka dengan penuh keprihatinan beliau terpaksa bekerja pada sebuah kafilah.

Pada kesempatan lain, guna menutupi kebutuhannya, beliau terpaksa menjual baju kurungnya. Hal itu beliau lakukan tiada lain demi memelihara dirinya dari meminta atau ditolong.

Meski demikian, dalam suasana yang serba kekurangan itu, tekad Imam Ahmad di dalam menuntut ilmu tidak pernah berkurang. Bahkan lebih terpuji lagi, sekalipun beliau sudah menjadi imam dan diikuti oleh banyak kaum Muslimin, pekerjaannya menuntut ilmu dan mendatangi guru-guru yang lebih ‘alim tidak pernah berhenti.

Melihat keteguhannya di dalam menuntut ilmu dan semangatnya yang tidak pernah pudar, seraya orang pun bertanya, “Sampai kapan engkau berhenti mencari ilmu, padahal engkau sekarang sudah mencapai kedudukan yang tinggi dan telah pula menjadi imam bagi kaum Muslimin?” Maka beliau pun menjawabnya dengan singkat, “Beserta tinta sampai liang lahad.”

Guru-Guru Imam Ahmad

Banyak sekali ilmu yang dipelajari oleh Imam Ahmad bin Hanbal, dan beliau sangat menguasainya dalam setiap sisi. Terutama ilmu hadis, maka bidang yang satu ini hingga usia lanjut telah banyak menarik perhatiannya. Sehingga tidak saja 1 juta hadis beliau hafal di luar kepala, akan tetapi sekaligus bersama mata rantai sanad dan ihwal perawinya.

Beliau dengan segenap ketekunannya memperoleh kelebihan yang langka dan jarang tandingannya ini adalah berkat guru-gurunya yang sangat terpilih, terkenal, dan amat piawai dalam bidangnya. Misalnya dari kalangan ahli hadis adalah Yahya bin Sa’id al Qathan, Abdurrahman bin Mahdi, Yazid bin Harun, Sufyan bin Uyainah, dan Abu Daud Ath-Thayalisi.

Sedangkan dari kalangan ahli fikih adalah Waki’ bin Jarrah, Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, dan Abu Yusuf, sahabat Abu Hanifah, dan lainnya.

Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, Imam Ahmad bin Hanbal pun menjadi seorang alim yang terkemuka dan besar pengaruhnya, terkenal tekun di dalam melacak rawi-rawi hadis yang banyak di antaranya tidak lebih dari si penabur bid’ah dan kesesatan. Beliau juga terkenal gigih dan berani di dalam menangkis berbagai paham yang berusaha memalingkan umat dari agamanya.

Wallahu a’lam bishawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here