Bareskrim: ACT Selewengkan Dana Umat Rp34 Miliar

240

Jakarta, Muslim Obsession – Kasus dugaan penyelewengan dana Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) memasuki babak buru, setelah Bareskrim Polri menetapkan empat orang tersangka, dimana dua di antaranya merupakan petinggi ACT.

Bareskim menduga kuat, para petinggi ACT telah menyalahgunakan dana umat dalam jumlah besar, dari hasil rilis yang disampaikan, Bareskrim menyatakan ACT menggunakan dana donasi dari Boeing yang tidak sesuai dengan peruntukan senilai Rp 34 miliar.

Dari jumlah dana yang tak sesuai peruntukkan tersebut, sebanyak Rp10 miliar digunakan untuk koperasi Syariah 212.

Wadir Tipideksus Bareskrim Polri Kombes Helfi Assegaf menjelaskan bahwa program yang sudah dibuat oleh ACT dari dana CSR Boeing tersebut, kurang lebih Rp 103 miliar.

“Dan sisanya Rp34 miliar digunakan tidak sesuai peruntukannya,” kata Helfi di Mabes Polri, Senin (25/7).

Dana yang diselewengkan itu, kata Helfi, paling besar untuk pengadaan truk. Selain itu, dana tersebut digunakan juga untuk koperasi syariah 212.

“Perlu kami sampaikan, apa saja yang digunakan tidak sesuai peruntukannya, di antaranya adalah adanya pengadaan armada truk kurang lebih Rp10 miliar, kemudian untuk program big food bus kurang lebih Rp2,8 miliar, kemudian pembangunan pesantren peradaban Tasikmalaya kurang lebih Rp8,7 miliar,” ujar Kombes Helfi.

“Untuk koperasi syariah 212 kurang lebih Rp10 miliar, kemudian untuk dana talangan CV CUN Rp3 miliar, selanjutnya kemudian dana talangan untuk PT MBGS Rp7,8 miliar sehingga total semuanya Rp34.573.069.200,” imbuhnya.

Selain itu, kata dia, Bareskrim juga menemukan dana yang diselewengkan untuk menggaji pengurus ACT. Untuk hal itu, Bareskrim sedang melakukan rekapitulasi.

“Kemudian selain itu, digunakan untuk gaji pengurus. Ini sekarang sedang dilakukan rekapitulasi dan menjadi tindak lanjut kami yang tadi disampaikan, akan dilakukan audit, selanjutnya kita akan berkoordinasi dengan PPATK, untuk selanjutnya tracing dana-dana tersebut,” imbuhnya.

Sementara itu, Karo Penmas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan mengatakan pihaknya juga telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk ahli. Dia kemudian menjelaskan soal perbuatan yang diduga oleh Ahyudin selaku mantan pemimpin ACT.

“Berdasarkan fakta hasil penyidikan bahwa saudara A yang memiliki peran sebagai pendiri dan ketua yayasan ACT dan pembina dan juga pengendali ACT dan badan hukum terafiliasi ACT,” ujarnya.

Dia mengatakan A duduk di direksi dan komisaris agar mendapat gaji dan fasilitas lainnya. Menurutnya, A diduga menggunakan hasil dari perusahaan itu untuk kepentingan pribadi. (Al)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here