Apa Alasan Abrahah dan Pasukan Gajah Menyerang Ka’bah?

242
Ilustrasi hancurnya pasukan gajah pimpinan Raja Abrahah.

Muslim Obsession – Peristiwa kelahiran Nabi Muhammad ﷺ dibumbui dengan kisah penyerangan pasukan gajah ke Makkah oleh Raja Abrahah dari Yaman. Sehingga dalam sejarah, kita mengenal hari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ adalah pada 12 Rabiul Awwal tahun gajah.

Saat itu, Raja Abrahah yang beragama Kristen mendapat dukungan dari dua imperium besar, Persia dan Byzantium, merasa dirinya memiliki kekuatan militer dan politik yang hebat.

Ia pun mulai berpikir untuk memperluas wilayahnya ke seluruh wilayah Arab dan menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya. Ia arahkan pandangannya kewilayah Makkah yang terletak di jantung kota Hijaz.

Menurut Muhammad Iqbal Nurul Awal, ada sejumlah alasan atau sebab penyerangan Abrahah ke Makkah. Alasan tersebut bukan hanya karena faktor agama, melainkan juga menyangkut urusan ekonomi dan politik.

Pertama, faktor keagamaan. Kerajaan Byzantium memiliki kesamaan dengan Abrahah, yaitu sama-sama memeluk agama Kristen yang menjadikan hubungan antara mereka menjadi sangat kuat.

Ini dapat dilihat bagaimana orang Byzantium di bawah perintah Uskup Alexandria membantu Abrahah untuk membangun beberapa gereja di wilayah Abrahah dan menjadikan Uskup Alexandria sebagai pengawas langsung pergerakan keagaamaan yang terjadi diwilayah Arab.

Ada satu hal penting yang harus diketahui, bahwa Abrahah membangun sebuah gereja di kota Sana’a Yaman yang dinamakan dengan gereja Qolis atau Qolsin. Abrahah meminta bantuan Uskup Alexandria dan orang-orang Najasyi untuk pembangunan gereja ini.

Jadilah gereja ini menjadi tempat sakral bagi orang-orang Nasrani yang ada di wilayah kekuasaan Abrahah. Ia juga ingin menjadikan gereja ini sebagai tempat berkumpulnya orang-orang dan memerintahkan mereka untuk berthawaf sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang berhaji di Makkah.

Abrahah menginginkan Ka’bah di Makkah hancur sehingga nantinya orang-orang yang thawaf di Ka’bah berubah haluan menjadi thawaf di wilayah Sana’a atau gereja Qolis.

Kedua, faktor ekonomi. Makkah yang terletak di tengah wilayah Arab menjadi posisi yang sangat strategis untuk jalur perdagangan dengan Byzantium yang menguasai wilayah laut Mediterania dan laut merah sedangkan Persia menguasai wilayah Samudra hindia dan teluk Arab.

Sebagai tambahan, kedatangan orang-orang mengunjungi ke Ka’bah tentunya membuka keran ekonomi bagi masyarakat Makkah. Terlebih, Makkah menjadi perlintasan para pedagang.

Ketiga, faktor politik. Sebagaimana Makkah dengan posisi yang sangat strategis dan menjadi salah satu pusat ekonomi Arab pada saat itu, membuat Abrahah ingin menghancurkannya dan menjadikan wilayah Yaman menjadi pusat ekonomi dan politik Arab.

Ia juga ingin mengamankan jalur perdagangan Arab yang bersambung dari Yaman sampai ke laut Mediterania. Salah satu langkahnya ialah menguasai wilayah pesisir Arab dan Makkah. Sederhananya, dengan menghancurkan Ka’bah, maka Abrahah akan menguasai Makkah.

Penyerangan Abrahah ke Makkah

Sebelum menyerang Ka’bah, Abrahah mengirim surat kepada Raja Najasy untuk memberitahunya bahwa ia akan menyerang Ka’bah dan meminta kepada Raja Najasy untuk mengirim bantuan khususnya gajah perang, maka Raja Najasy menyetujuinya dan mengirimkan bala bantuan.

Penyerangan ini juga mendapat dukungan penuh dari kerajaan Byzantium.

Setelah persiapan perang sudah siap, Abrahah mengerahkan pasukannya kearah Makkah dengan bantuan 13 gajah perang yang dikirim oleh Raja Najasy. Penyerangan ini juga membuat takjub suku-suku Arab pada saat itu dan juga Abrahah mendapat penolakan dari beberapa suku Arab tapi ia tidak menghiraukannya.

Sampailah Abrahah dekat dengan wilayah Makkah dan membangun tenda di daerah Al-Mughims sekitar 11 kilometer dari kota Makkah. Abrahah mengirim utusan ke Makkah sebelum menyerang dan menyampaikan tujuannya ingin menyerang Ka’bah dan akan memerangi siapa saja yang menghalanginya.

Maka keluarlah Abdul Muthallib kakek Nabi Muhammad ﷺ yang pada saat itu menjadi pemimpin kaum Quraisy. Abrahah meminta imbalan 200 unta dan tentaranya menguasai wilayah Makkah.

Abdul Muthallib menawarkan sepertiga kekayaan Makkah dan memerintahkan Abrahah untuk meninggalkan Makkah. Tapi dengan sombongnya, Abrahah berkata bahwa tidak ada yang menghalanginya untuk menghancurkan Ka’bah dan mulai menyiapkan pasukan untuk menghcurkan Ka’bah.

Melihat Abrahah yang bersikeras menyerang Ka’bah, Abdul Muthallib memerintahkan penduduk untuk mencari perlindungan ke bukit-bukit yang ada disekitar Makkah untuk mencari perlindungan dan menyerahkan Makkah kepada Allah Ta’ala.

Ketika pasukan Abrahah bersiap untuk menyerang, ia menempatkan gajah perangnya di posisi utama pasukan. Tetapi gajah perangnya tidak mau bergerak ke arah Ka’bah meskipun sudah dicambuk dan dibakar tetap saja gajahnya tidak mau bergerak.

Abdul Muthallib dan orang-orang suku Quraisy memperhatikan dari jauh keadaan yang terjadi dan menanti hasil akhir kejadian tersebut. Sampai Ketika Allah mengirim burung yang sangat banyak dan saling bersusun-susun dengan bentuk gelombang membawa batu dan menyerang pasukan Abrahah dan gajahnya.

Peristiwa penyerangan dan tumbangnya pasukan Abarahah ini dijelaskan dalam Al-Quran di surah Al-Fiil:

“Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar, sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here