Anakku, Carilah Ulama yang Benar, yang Hidup dan Ibadahnya Tidak Mengharapkan Surga

440
Ilustrasi.

Oleh: Drs. H. Tb. Syamsuri Halim, M. Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Dikisahkan, ada seorang pemuda ahli maksiat yang mencari cari ulama untuk jadikan gurunya.

Si Pemuda mencari ulama, sebab ibunya sebelum wafat berwasiat: “Anakku, carilah ulama yang benar, yang hidupnya tidak mengharapkan surga tetapi takut akan neraka”.

Pemuda itu pun mulai mencari ulama yang dimaksudkan ibunya.

Singkat kisah, bertemulah pemuda itu dengan seorang ‘alim dan bertanya, “Wahai Ulama ‘Alim, apakah engkau hidup dan beribadah karena surga?”

“Ya betul, wahai Anak Muda. Hidup ini hanyalah pilihan antara surga dan neraka,” jawab Ulama ‘Alim itu.

BACA JUGA: Benarkah Mencuci dan Memasak Bukan Kewajiban Istri?

“Terima kasih jawabannya, wahai Ulama ‘Alim!” ujar Si Pemuda. Ia berpikir bahwa Ulama ‘Alim ini bukanlah ulama yang dimaksudkan ibunya.

Suatu saat Si Pemuda bertemu lagi dengan Ulama ‘Alim lainnya dan bertanya, “Wahai Ulama ‘Alim, apakah engkau hidup dan beribadah karena surga?”

“Ya betul wahai Anak Muda, hidupku hanya tertuju kepada surga karena surga adalah tempat yang dijanjikan Allah untuk orang yang taat dan aku berani mati untuk surga,” jawab Ulama ‘Alim itu.

“Terima kasih jawabannya, wahai Ulama ‘Alim!” jawab Si Pemuda. Namun, lagi-lagi Si Pemuda berpikir bahwa Ulama ‘Alim ini bukan pula ulama yang dimaksudkan ibunya.

BACA JUGA: Kisah Sayyidina Ali RA dan Seorang Nasrani Tua

Si Pemuda terus mencari cari ulama yang dimaksudkan ibunya. Lama ia mencari, namun ia tetap tidak menemukannya.

Suatu masa, Si Pemuda memberanikan diri untuk menemui Imam Al-Ghazali r.a, Sang Sufi yang sangat tersohor namanya.

Sang pemuda bertemu dengan Sang Sufi dan bertanya, “Wahai Hujjatul Islam, apakah engkau beribadah karena surga?”

Imam Al-Ghazali tersenyum lalu menjawab dengan lembut. “Ketahuilah Anak Muda, surga hanyalah ciptaan-Nya, bukan Maha Pencipta. Dan jika aku beribadah karena surga niscaya aku adalah termasuk orang yang menduakan Allah SWT.”

“Jadi karena apakah engkau beribadah wahai Hujjatul Islam?”

BACA JUGA: Kekeliruan Mengucapkan Kalimat “Insya Allah”

“Aku beribadah semata mata karena CINTA ku kepada Tuhanku,” jawab Imam Al-Ghazali.

Sang pemuda menangis seraya berseru, “Ibu, aku sudah bertemu ulama yang engkau maksudkan.”

Maka terdengarlah suara ghaib, “Ikutilah dia wahai anakku. Sesungguhnya dia adalah ulama sejati yang hidup dan ibadahnya tidak berharap surga seperti halnya para Sahabat”.

Berkata Imam Al-Ghazali dalam kitabnya, Bidayah:

Larilah engkau dari ulama Shu’ (buruk) seperti larinya engkau dari kejaran harimau. Carilah ulama yang benar, anakku. Ulama yang hidup dan ibadahnya tidak mengharapkan surga, apalagi ulama yang bertarif dunia.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here