Al-Quran, Kitab Suci yang Paling Banyak Dihafal Umat Manusia

150
Umat Islam membaca Al-Quran secara bersamaan dalam acara "Cipulir Mengaji Bersama 500 Qori" di Jalan Samudera, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta, Ahad (17/04/2022). (Foto: Edwin B/ Muslim Obsession)

Muslim Obsession – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti menuturkan bahwa jika seseorang ingin mahir dalam Berbahasa Arab, maka harus dekat dengan Al-Quran.

Selain itu, jika dekat dengan Al-Quran hati juga akan tenang. Selain itu, Al-Quran merupakan Kitab Suci yang paling banyak dihafal oleh umat manusia.

Sebab Al-Quran selain sebagai Kitab Suci bacaan orang Islam, sekaligus juga sebagai mukjizat. Ketenangan hati tersebut karena hidup akan selalu dibimbing oleh Allah SWT pada jalan yang lurus, karena Al-Quran juga sebagai petunjuk.

“Tetapi yang terpenting lagi Al-Quran itu juga mauidzah, nasehat-nasehat. Kalau sedang berbahagia jangan lupa diri, kalau sedang berduka jangan lupa diri dan seterusnya,” tuturnya, dilansir muhammadiyah.or.id., Jumat (19/8/2022).

Merujuk As-Suyuthi dan Al Qurtubi, Mu’ti menyebut banyak sekali nama-nama Al-Quran. Termasuk Az-Zikr yang bisa dimaknai sebagai peringatan-peringatan dan bisa juga dimaknai sebagai berzikir atau mengingatkan kepada umat Islam untuk senantiasa membaca Al-Quran.

“Dzikir yang utama adalah terus-menerus melakukan tadarus Al-Quran, qiro’atul qur’an, sehingga Al-Quran sebagai adzikru juga artinya itu karena Al-Quran diingat, dihafal semua orang maka Quran itu adalah kitab yang paling banyak dihafal oleh umat manusia,” ungkapnya.

Karena Al-Quran dijaga kemurniannya, maka Al-Quran sebagai Kitab Suci agama yang dihafal oleh jutaan umat manusia.

Sehingga jika ada seseorang membaca Al-Quran, lalu kemudian lupa atau keliru mesti ada orang lain yang hafal akan memperbaiki atau mengingatkan bacaannya.

Oleh karena itu, Guru Besar Bidang Pendidikan Agama Islam ini mengingatkan kepada umat Islam untuk senantiasa mendekatkan diri dengan Al-Quran, sembari memperbaiki hukum-hukum bacaan Al-Quran. Sebab jika salah baca Al-Quran, akan salah makna.

“Mohon maaf kalau kita keliru panjang – pendek, itu nanti juga artinya itu bisa keliru. Bahkan juga kadang-kadang berhentinya di mana itu titik tekannya juga bisa berbeda,” ucapnya.

Mu’ti menekankan supaya umat Islam dalam membaca Al-Quran dilakukan dengan tartil atau membaca pelan-pelan dengan bacaan yang benar.

Dia mengingatkan supaya dalam membaca Al-Quran jangan ngebut atau jangan kejar setoran, sebab ngaji Al-Quran bukan supir angkot.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here