Ada Kesamaan Cara Pandang Edward W. Said dengan Bung Karno

143

Oleh: Hendrajit (Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute)

Membaca karya Edward W. Said, Orientalism, saya melihat ada kesamaan cara pandang dengan Bung Karno. Kolonialisme dan Imperialisme lebih penting dikaji seluk beluk dan cara bagaimana wacana dibentuk lewat pola pikir dan kajian akademis dalam membentuk cara pandang yang membenarkan penjajahan, ketimbang dampak dari hegemoni kekuasaan sebagai produk imperialisme tersebut bagi rakyat.

Jadi mengkaji bagaimana wacana berubah menjadi kekuasaan, jauh lebih penting disorot ketimbang dampak kuasa imperialisme kepada rakyat sebagai korban. Memahami hulu penyebab lebih penting daripada efek atau akibat yang bersifat hilir.

BACA JUGA: Siasat Perang Taklukkan Lawan Secara Nirmiliter

Sehingga spirit Bung Karno maupun Said lebih mementingkan bagaimana menginspirasi gerakan dekolonisasi seraya melucuti dan menelanjangi wacana dan pikiran yang digunakan sebagai topeng menyembunyikan sistem pemikiran yang memihak penjajajahan. Dengan begitu kita disiapkan untuk melawan dan mencegah agar sejarah tidak berulang.

Kedua, Edward W. Said maupun Bung Karno yang kita bisa kaji dalam dua karyanya, Indonesia Menggugat dan Mencapai Indonesia Merdeka, dengan mengkaji cara pandang dan pola pikir imperialisme itu terbentuk secara sosial dan budaya, maka kita pun akan menelisik kesejarahannya bagaimana berbagai bentuk perlawanan terhadap pola pikir dan cara pandang kolonialisme dan imperialisme pernah dilakukan.

BACA JUGA: Ada Missink Link dalam Cerita G30S/PKI

Ketiga, Bung Karno dan Said yang sama-sama pernah hidup di negara yang sedang dibelenggu penjajahan, bersepakat pada satu hal: kolonialisme dan imperialisme tidak selalu menang. Sering kali pernah kalah, dan bisa dikalahkan. Maka dari sinilah kita harus belajar.

Keempat, ada saat ketika situasi genting, masyarakat seakan dipaksakan pada dua pilihan: melawan imperialisme atau fasisme. Padahal sejatinya fasisme lahir dari rahim imperialisme dan kapitalisme.

Alhasil rakyat awam kerap dihadapkan fait accomply, memilih anak haram atau memilih ayah kandungnya, terutama ketika negara-negara adikuasa yang umumnya penjajah terbelah dua kubu seperti Perang Dunia II.

BACA JUGA: Ketika Kata Mampu Ubah Kelemahan Jadi Kekuatan

Atau seperti Saddam Hussein, yang dari awal mula merupakan produk imperialisme Barat, belakangan diingkari keberadaannnya sebagai anak haram dengan mencap Saddam sebagai rezim fasisme. Dan masyarakat dunia digiring untuk memilih anti fasisme seraya mengabaikan imperialisme sebagai pencipta monster bernama Saddam Hussein.

Nah, kalau membaca jalan pikiran Said maupun Bung Karno, mereka memahami betul latar belakang kondisi semacam ini. Sehingga tidak mau terjebak pada pilihan antara imperialisme atau fasisme. Karena keduanya adalah produk yang sama.

Maka itu, dalam menyikapi penjajahan, kemauan dan tekad untuk melancarkan gerakan dekolonisasi jauh lebih utama. Setelah itu baru mendalami ilmunya yang pas untuk melawan skema kolonialisme yang bersifat soft power dan nirmiliter itu. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here