72 Tahun Roem-Roijen

945

Syair Natsir
Dalam suasana perundingan yang menegangkan dan menyesakkan dada, karena masing-masing bersikeras pada pendapatnya, menjelang subuh tiba-tiba Natsir melantunkan sebuah syair klasik berbahasa Arab:
Tidaklah semua keinginan manusia akan tercapai, karena angin berhembus di tengah lautpun tidak selamanya mengikuti keinginan perahu yang sedang berlayar.

Mendengar syair yang dilantunkan Natsir beserta terjemahannya, Sjafruddin seolah tersentak. Ketua PDRI itu “menyerah”, dan menyatakan kesediaannya kembali ke Yogyakarta untuk mengembalikan mandat –yang tidak pernah dia terima— kepada Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Dalam suasana lega, di subuh yang dingin, terdengar ucapan Sjafruddin: “Dalam perjuangan, kita tidak pernah memikirkan pangkat dan jabatan, karena kita berunding pun duduk di atas lantai. Yang penting adalah kejujuran. Siapa yang jujur kepada rakyat dan jujur kepada Tuhan, perjuangannya akan selamat.”

Delegasi Natsir dan pimpinan PDRI, satu persatu kemudian menuju Pincuran Tabek Gadang. Para pemimpin Republik itu mandi di tempat yang sangat sederhana dan alamiah di tempat terbuka.

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan RI, Padang Japang memiliki arti sangat penting. Di tempat itulah, pimpinan PDRI yang tidak dapat menerima Pernyataan Roem-Roijen menyatakan keikhlasan dan kebesaran hati untuk mengembalikan mandat kepada Presiden Sukarno, sehingga tanggung jawab perjuangan selanjutnya ada di tangan Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here