72 Tahun Roem-Roijen

946

Sebelum tiba di Padang Japang, Delegasi Natsir harus melintasi daerah tidak bertuan sepanjang satu kilometer. Ternyata Delegasi Natsir tiba lebih dulu dibandingkan dengan Pimpinan PDRI. Ketua PDRI dan rombongan harus berjalan kaki dari Limbanang yang jaraknya sekitar 25 kilometer.

Tengah hari 6 Juli 1949, sesudah menghilangkan lelah, pertemuan Delegasi Natsir dengan Pimpinan PDRI dimulai. Perundingan dilangsungkan dalam formasi duduk melingkar seraya bersila beralaskan tikar.

Hasil Mubes PDRI di Sumpur Kudus dibacakan. Para pemimpin PDRI Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Mr. T.M. Hasan, Mr. St. Moh. Rasjid, Mr. Lukman Hakim, R.M. Danubroto, Kolonel Dahlan Ibrahim, Ir. M. Sitompul, Sj. St. Mangkuto, dan M. Hamdani, dengan nada keras mempertanyakan: “Mengapa PDRI tidak diajak dalam perundingan Roem-Roijen, padahal yang berkuasa sesungguhnya PDRI.”

Perundingan dilangsungkan secara maraton, hanya beristirahat untuk shalat dan makan. Pada malam hari, perundingan dilangsungkan di bawah penerangan sinar lampu “togok”. Setelah berdebat berjam-jam tanpa terlihat tanda-tanda bakal berakhir, Leimena dan Halim bagai kehilangan kesabaran. Hampir bersamaan, keduanya mengingatkan Sjafruddin dan para pejuang PDRI: “Dulu, sewaktu Bung Karno dan Bung Hatta ditawan, kami tidak tahu bagaimana nasib Republik bilamana PDRI tidak ada. Dan, sekarang pun kami tidak tahu bagaimana nasib Republik apabila Bung Sjafruddin tidak bersedia kembali ke ibukota Yogyakarta.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here