3 Tips Agar Anak Tidak Berkata Kasar

346
Ilustrasi: Anak marah. (Foto: flippedclass)

Muslim Obsession – Masalah anak suka berkata kasar bukan masalah sepele. Islam memandang itu sebagai perkara yang sangat penting. Orang tua yang membiarkan anak berkata kasar akan memetik hasil buruk saat sudah dewasa nanti.

Pakar Islamic Parenting Ustadz Bendri Jaisyurrahman, seperti dikutip dari akun Instagram ilmu parenting_id., Senin (24/1/2022) menyebut kata kasar yang didengar anak saat kecil mengendap di pikiran, hingga dewasa dan mempengaruhi perilaku. Artinya, kata kasar yang dilontarkan anak pada masa kecil menggambarkan perilaku di masa depan.

“Perhatikan bahasa anak ketika masih berumur dini. Saat anak-anak di umur awal, sejatinya memiliki tangki yang menyerap isi dari dunia sekitar. Kalau tangki itu berisi sesuatu yang positif, maka akan membantu dia saat memasuki usia bicara untuk mengeluarkan kata-kata positif. Begitu sebaliknya,” kata Ustadz Bendri.

Ustadz Bendri Jaisyurrahman, memberikan tiga tips untuk mencegah agar anak tak berkata kasar. Kata kasar memiliki dua tanda, yakni suara anak meninggi dengan berteriak dan menyebut kata-kata kasar seperti menyebut anggota kebun binatang.

Tips untuk mencegah anak berkata kasar, yaitu:

1. Berikan Asupan Bahasa yang Baik

Para ahli mengatakan, anak berusia 0-2 tahun menyerap 5 ribu sampai 10 ribu kosakata setiap hari. Maka mulai dari sini, orang tua harus memberikan asupan bahasa yang baik agar anak menjadi pribadi yang baik dan santun.

Orang tua bisa mengajak anak ke majelis ilmu. Di majelis ilmu, anak secara otomatis mendengarkan kata-kata yang baik. Itu akan terserap ke dalam otak mereka, meskipun belum memahami penjelasan-penjelasan suatu ilmu.

Lalu bagaimana jika sudah terlanjur? Maka lakukan evaluasi, kerap orang tua membiarkan anak merekam bahasa tanpa bimbingan atau sortir. Bahasa itu bisa dari lingkungan sekitar, memberikan smartphone terlalu cepat, hingga tayangan tidak mendidik.

“Kalau ini sudah terjadi, maka wajib kita melakukan upaya untuk memperbaiki isi kepala yang mempengaruhi jiwa anak. Ketika melihat anak berkata buruk, maka segera tangani. Jangan katakan ‘namanya juga anak-anak’,” ucap Ustadz Bendri.

Masalah lain, kerap orang tua sudah memberikan asupan bahasa yang baik, namun tiba-tiba mengeluarkan kata-kata kotor. Maka hal pertama yang perlu diperhatikan adalah orang tidak boleh langsung membentak anak. Orang tua perlu berasumsi bahwa itu berasal dari lingkungan sekitar.

“Jangan langsung membentak anak. Berasumsi bahwa dia hanya menyerap dari lingkungan dari lingkungan sekitar. Tanyakan, ‘tadi bunda kamu ngomong gitu, maksudnya apa yak?’,” ucap Ustadz Bendri.

Selanjutnya, anak yang berkata kasar karena tidak punya regulasi emosi. Anak tidak punya cara mengungkapkan perasaan negatif dalam dirinya karena tidak memiliki kosakata yang pas. Akhirnya, yang muncul adalah kalimat negatif. Perkara ini bisa juga dipengaruhi oleh orang tua yang suka marah-marah dengan cara vulgar dan mengucapkan kata-kata kotor atau membentak.

Maka itu, orang tua perlu memberikan teladan marah kepada anak. Misalnya marah dengan penuh perasaan lembut, ‘mama enggak suka’, ‘Mama marah kalau abang begitu’, ‘Abang melanggar aturan, mama kecewa banget deh’. Bisa juga kata-kata semisal yang menunjukkan kesantunan saat marah. Setiap kali marah dengan cara elegan, maka anak pun akan menyerap.

Kemudian, anak yang tidak bisa berkata baik saat emosi karena minimnya kosakata. Anak tidak mempunyai kata yang mewakili saat berada pada momen puncak kemarahan, kecuali menyebut anggota kebun binatang. Ia tidak punya kosakata elegan untuk mengungkapkan kemarahan.

Maka itu, sedari kecil orang tua harus memperdengarkan bahasa yang baik untuk anak-anak. Ada banyak cara bisa dilakukan. Bisa dengan membacakan buku kepada anak, atau memberikan tontonan yang bermanfaat.

“Bagaimana dia berkata baik kalau tidak punya treatment setiap hari. Jadi biasakan anak membaca buku, mau dibacakan atau baca secara mandiri. Ini sangat mudah membantu anak untuk berkata baik,” ucap Ustadz Bendri.

2. Berikan Hak Anak Sejak Kecil

Penyebab kedua anak sering berkata kasar adalah ia tengah menunjukkan kegelisahan karena tidak mendapatkan hak pada masa kecil. Dua hak itu adalah sentuhan dan pelukan. Dua hal ini mampu memberikan ketenangan kepada anak. Ini termaktub dalam surah Az-Zumar ayat 23, Allah ta’ala mengingatkan tentang hubungan sentuhan kulit dengan jiwa yang tenang.

“Anak anak yang tidak mendapatkan sentuhan, pelukan dari orang tuanya, maka jiwanya resah, gelisah, dan menunjukkan perilaku yang tidak elok,” ucap Ustadz Bendri.

Orang tua harus sering memeluk anak dan memberikan sentuhan kulit seperti mengusap punggung, pipi, dan ubun, atau bagian kulit yang memberikan ketenangan saat disentuh. Jika anak kurang suka, maka bisa memakai trik khusus seperti mengusap kulit anak saat tidur.

3. Perbaiki Otak Reptil

Otak reptil atau sang penjaga atau batang otak. Otak ini terletak paling belakang di otak kita ia berupa batang yang menghubungkan otak dengan tulang belakang. Otak reptil berfungsi mengatur gerak reflek dan keseimbangan pada tubuh manusia. Otak inilah yang memerintahkan kita untuk bergerak saat jika terjadi bahaya ataupun melindungi kita dari bahaya fisik. Otak reptil akan aktif apabila orang merasa takut, stres, terancam marah atau saat lelah.

Teriakan kepada anak pada saat kecil itu akan mempertebal otak reptil anak dan merusak saraf otak. Batang otak yang terlalu tebal akan membuat anak sumbu pendek. Misalnya, saat menyukai sesuatu yang langsung berteriak dengan kata kasar, meski hanya masalah sepele. Ini karena otak reptil merespon dengan singkat, cepat, dan tidak pakai berfikir.

Batang otak tebal akan susah dibenahi jika anak sudah dewasa, butuh terapi panjang. Maka sejak anak-anak harus diperbaiki. Ada tiga cara untuk memperbaiki batang otak yang tebal ini.

Pertama, mengusap ubun-ubun anak. Ini dilakukan Rasulullah saat mendapati ada anak-anak yang melakukan kesalahan. Ini berfungsi memperbaiki sel otak yang rusak karena sering diteriaki. Bisa disiasati dengan pura-pura menyisir kepala anak atau dilakukan saat anak tidur.

Kedua, sering bisiki kalimat-kalimat menenangkan di telinga anak. Misalnya dengan membisiki, ‘kamu hebat, kamu luar biasa’ dan kalimat menenangkan lainnya. Bisa juga saat anak sudah tidur, terutama 15 menit pertama.

Ketiga, teknik thinking skill. Ini sebuah teknik mengajari anak mengambil keputusan. “Kita bisa melatih daya pikirnya supaya tidak sumbu pendek, latih korteksnya untuk mengambil keputusan, salah satunya dengan sering membuat atau melatih berpikir dengan pertanyaan why? ‘abang kenapa sih bisa begini?’,” kata Ustadz Bendri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here